Slider

VIDEO

BLOGGING NOTE

KULINER

SEJARAH

ACEH SELATAN

S O S O K

Gallery

Gulai Asam Padeh Ikan Balanak

Pagi ini terasa hangat oleh sinar mentari dan semua mahkluk tersenyum menyambutnya. Seperti biasa setelah melakukan aktivitas pagi, aku lalu menikmati secangkir kupi kluet yang aduhai. Memang benar kata orang, kalau lidah sudah terbiasa terhadap sesuatu pasti akan kepingin lagi merasakannya layaknya seperti candu.

Lama aku tinggal dikota besar, akan tetapi lidah ini tetap kampungan. Kata orang makan pizza hut itu enak, namun aku lebih doyan ngunyah lempiang sagu ( sejenis lemper ). Kata orang makanan sea food itu
nikmat namun lidahku lebih nyaman merasakan sambal ikan balado. Hahaha.... dasar lidah kampungan tak pernah mau berdamai dengan makanan mahal.

Bicara mengenai rasa, kali ini aku akan kembali menghadirkan salah satu kuliner dari kampung halamanku di Aceh Selatan, namanya Gulai Asam padeh. Kuliner ini termasuk kuliner yang sangat mudah untuk membuatnya sehingga tidak salah jika aku sering sekali memasaknya disela - sela kesibukan lainnya. Kembali ke dapur, hehehe...

Sebelum nya mari kita persiapkan terlebih dahulu bahan - bahannya. jika yang rumahnya dekat pasar maka bersyukurlah. Bahan - bahannya mudah kok. ini dia sahabat.

  • Ikan, boleh ikan apa saja sesuai selera. Kali ini ikan yang ku beli adalah ikan balanak. Bersihkan ikan tersebut terlebih dahulu.
  • Cabe merah yang sudah dihaluskan. Ukurannya disesuaikan dengan selera saja ya sob, ntar gak sanggup pula menahan pedes.
  • Kunyit 1 sendok kecil saja
  • Cabe rawit, juga disesuaikan dengan selera.
  • Jahe,  kira - kira sepotong kecil yang nantinya kita tumbuk halus.
  • Bawang secukupnya.
  • Batang serai, ditumbuh pangkalnya.
  • Asam sunti kira - kira segenggam kecil agar lebih kental rasa asam nya.
  • Daun jeruk nipis 2 - 3 lembar, daun ini nanti dirobek - robek lalu ditaburkan dalam masakan.

Cara membuatnya :
Masukkan semua bumbu - bumbu ( kecuali batang serai dan daun jeruk purut) kedalam wajan tentunya setelah dihaluskan terlebih dahulu, diblender misalnya atau di giling jika tidak punya blender. atau diapain aja yang penting halus. hihihi...
Kemudian masukkan ikan yang sudah bersih (lebih baik dipotong kecil - kecil agar bumbunya meresap kedalam daging ikan) itu diaduk dengan bumbu - bumbu. Nah setelah itu masukkan air bersih secukupnya. Air yang digunakan sebaiknya disesuaikan dengan selera saja. Masukkan garam secukupnya, sebaiknya gunakan lidah yang sehat untuk merasakan kuahnya. Tarakhir, daun jeruk purut dan batang serai tadi silahkan dimasukkan.








Jika dianggap sudah beres, angkat wajan lalu panaskan beberapa menit hingga sahabat akan membaui aroma yang sedap. Setelah daging ikan terlihat agak menguning maka gulai yang kita masak itu sudah dianggap matang. Nah, mari sini... lihatlah gulai Asam Padeh Ikan Balanak buatanku sudah jadi.
Gulai Asam Padeh Ikan Balanak

Gulai Asam Drien

Di Aceh Selatan, gulai ini disebut dengan gulai asam dighan (gulai asam durian) karena memang mengandung durian yang telah diasamkan sebagai bumbu. Rasanya jangan ditanya lagi sob, mantraaaapp…..!!

Di beberapa wilayah, khususnya bagian Barat-Selatan Aceh masyarakat sering memanfaatkan durian ini untuk membuat masakan khas tersendiri yang sekarang kita kenal sebagai "Gulai Asam Drien" atau gulai asam durian. Bedanya dengan masakan Jambi dan Padang, Gulai Asam Drien Aceh lebih banyak menggunakan sayur-sayuran sebagai bahan utamanya juga menggunakan santan agar kuahnya lebih kental.

Nah, di beberapa tempat lainnya (selain Meulaboh, Nagan Raya, Blang Pidie, Aceh Selatan) seperti Banda Aceh, Lhoksemawe dll, Gulai Asam Drien ini tak banyak dikenal oleh masyarakat. Bahkan, tak jarang masyarakat yang tak pernah merasakan masakan ini, merasa "jijik" dan tak suka pada masakan yang satu ini. Ketidaktahuan ini dapat dimaklumi, gulai asam drien ini jauh dikenal di bagian Barat dan Selatan Aceh saja.

Dan kemungkinan, ini erat kaitannya dengan singgahnya pendatang dari daerah Padang dulunya  ke wilayah Barat-selatan Aceh. Para pendatang dari Padang inilah yang memberikan sentuhan-sentuhan pada kuliner Aceh diwilayah barat – selatan sehingga memiliki persamaan karakter masakan.

BAGAIMANA SIH PROSES MEMASAKNYA?

Mudah saja , ayo kita kedapur untuk menyiapkan semuanya. Kali ini chief dak milano akan memandu sahabat. :D
Pertama : Siapkan Bahan 1. Santan secukupnya 2. Sayur-sayuran yang diinginkan, biasanya : terung hijau, kacang panjang, daun melinjo, daun tapak  leman, Sere (serai), on Krut atau daun jeruk purut. Semua bahan ini dipotong/iris halus-halus. 3. Udang 4. Durian yang difermentasikan, disimpan dalam botol/toples sehingga menjadi asam. Manis juga boleh kok, asal sesuai dengan selera.


On Kruet ( daun jeruk purut ) dan bawang merah /putih


Kedua : Siapkan Bumbu yang  dihaluskan 1. 6 siung bawang merah 2. 1 siung bawang putih 3. cabe rawit sesuai selera 4. 3 cabe merah 5. sedikit lengkuas 6. Kunyit 1 setengah cm Selebihnya bisa ditambah bumbu lainnya yang sesuai dengan selera...


potongan terong ijau dan kacang panjang



Irisan sayur dan bumbu

Cara memasaknya,
Biasa aja seperti biasanya,
Semua bahan ( termasuk durian yang difermentasikan tadi ) dikumpul dalam wadah pemasak lalu diaduk dengan bumbu halus. Letakkan di atas kompor, lalu dimasak dengan santan cair terlebih dahulu. Setelah kira-kira sudah matang setengah, baru santan kental dituang dan tunggu hingga matang. ;)

Tunggu apa lagi, ayo kita mulai memasak dan mencobanya. Toh saya juga lagi dalam proses belajar nih. Hehe...
Saleum....

Cara Memasak Lemang di Aceh Selatan

Aha…. Sudah pada tau kan apa itu lemang? Kalau masih ada yang belum tau silahkan dilihat penampakan lemang yang ada di sebelah kiri monitor sahabat. Lemang merupakan kekayaan kuliner nusantara. Wujudnya apik dan rasanya maknyus banget kalau perut sedang lapar. Lemang adalah makanan yang terdiri dari beras / ketan / pulut yang dibalut oleh daun pisang muda sebagai alas lalu di masukan kedalam batang bambu kemudian didiangkan didekat perapian hingga matang.

Diaceh, lemang biasa dibuat ketika akan menyambut bulan puasa ramadhan dan hari lebaran. Jika tiada lemang maka lebaran akan terasa hampa. Hahaha….

Jika di padang, lemang disebut dengan lamang sementara kalau di aceh disebut lemang (bahasa aceh) dan lamang (bahasa aneukjamee ). Nama yang sama boleh jadi cara masaknya juga sama. Sepertinya dimana - mana rasa lemang hampir juga sama. hehehe...
  
Mari kita mencoba untuk belajar memasak lemang alias lamang dan kebetulan resep masakan ini asalnya dari kampung kelahiranku di aceh selatan. 

Bahan - bahan nya sebagai berikut :

- 5 batang bambu atau lebih kalau sanggup
- 3 buah kelapa tua (di ambil santan nya); disesuaikan dengan banyak lemang yang akan dimasak
- beberapa pucuk ddaun pisang yang muda
- 3 bambu beras ketan
- Lidi muda ; disesuaikan dgn jumlah lemang yang dimasak
- dan garam secukup nya

Cara pembuatan nya :
  •  Rendam beras ketan kemudian bersihkan.
  • Buah kelapa tua diperas dan ambil 5 cawan santannya,lalu tambahkan garam secukup pada santan tersebut kemudian aduk hingga rata.
  • cuci dan bersihkan batang bambu sebersih bersihnya.
    Masukan pucuk daun pisang secara melingkar kedalam batang bambu dengan baik.
  • Masukanlah beras ketan kedalam bambu setelah itu masukkan juga santan tadi secukup nya kedalam bambu yang sudah terisi beras ketan.
Ingat: santan nya harus lebih banyak dari beres ketan karna kalau kurang lemang nya nanti jadi mentah.
  • Lalu tusukkan lidi muda kedalam beras ketan itu. Pangkalnya dibawah. Tujuannya agar santan bisa terserap penuh kedalamberas ketan.
Cara memasak nya :

 
Atur batangan bambu sejajar disamping perapian
Cara memasak lemang ternyata tidak terlalu sulit, cuma kita perlu menyiapkan beberapa bahan saja, mudah kok bahan nya buatlah 2 tiang penyangga dari kayu dengan ukuran setengah meter lalu tancapkan ke tanah kedua tiang tersebut dengan sejajar,dan letakan besi bulat diatas kayu penyangga tersebut, lalu hidupkan api (api kayu atau tempurung).


Setelah api hidup, letakan dan susunlah bambu yg sudah terisi beras ketan tersebut diantara api kedua penyangga tersebut. Supaya lemang tidak masak sebelah kita harus memutarkan bambu tersebut supaya masak nya merata dan jika tangan tidak tahan panas sebaiknya gunakan sarung tangan atau besi untuk memutar lemang bambu tersebut. 


Begitulah cara memasak lemang dikampungku, mudah – mudahan berguna untuk kita semua. selamat mencoba,,,,,,,,,,,,

Tradisi Khanduri Apam Dalam Masyarakat Aceh

Saleum,
Beberapa waktu yang lalu saya sering mengatakan di Waroeng Blogger bahwa saya paling suka ngopi ditemani oleh kue serabi. Memang hal itu adalah kenyataan karena kue serabi mempunyai rasa yang sangat cocok dengan kue tersebut. Apalagi kalau kue serabi alias apam (bahasa Acehnya) itu direndam dulu beberapa detik dalam cangkir kupi setelah itu, Happ....!!! lalu di kunyah, wuiih... asoy geboy rasanya.

Nah sahabat, tulisan kali ini juga berkenaan dengan kue serabi yang asoy geboy itu karena kue serabi alias apam punya peranan yang penting dalam tatanan masyarakat diaceh. Saya akan coba menceritakan disini. Memang sih dalam penyampaian tradisi khanduri ini sudah banyak terdapat versi cerita yang berbeda, namun saya berusaha untuk mendapatkan referensi yang tepat supaya mampu merangkum menjadi satu semua versi yang beragam diaceh tentang khanduri apam dan pelaksanaannya, apalagi ini adalah salah satu tradisi masyarakat Aceh pada bulan ke tujuh dalam kalender.

Aceh yang disebut dengan Khanduri Apam (Kenduri Serabi). Buleun Apam adalah salah satu dari nama-nama bulan dalam “Almanak Aceh” yang setara dengan bulan Rajab dalam Kalender Hijriah. Buleun artinya bulan dan Apam adalah sejenis makanan yang mirip serabi.

Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh untuk mengadakan Khanduri Apam pada buleun Apam. Tradisi ini pun sering dilaksanakan dikampungku di Aceh Selatan sana. Kegiatan toet apam (memasak apam) dilakukan oleh kaum ibu di gampoeng (kampung). Biasanya dilakukan sendirian atau berkelompok. Pertama sekali yang harus dilakukan untuk memasak apam adalah top teupong breuh bit (menumbuk tepung dari beras nasi). Tepung tersebut lalu dicampur santan kelapa dalam sebuah beulangong raya (periuk besar).

Campuran ini direndam paling kurang tiga jam, agar apam yang dimasak menjadi lembut. Adonan yang sudah sempurna ini kemudian diaduk kembali sehingga menjadi cair. Cairan tepung inilah yang diambil dengan aweuek/iros untuk dituangkan ke wadah memasaknya, yakni neuleuek berupa cuprok tanoh (pinggan tanah).

Cerita dulu sih, Apam tidak dimasak dengan kompor atau kayu bakar, tetapi dengan on ‘ue tho (daun kelapa kering). Malah orang-orang percaya bahwa Apam tidak boleh dimasak selain dengan on ‘ue thoini karena berpengaruh pada rasa. Masakan Apam yang dianggap baik, yaitu bila permukaannya berlubang-lubang sedang bagian belakangnya tidak hitam dan rata (tidak bopeng). Apam paling sedap bila dimakan dengan kuahnya, yang disebut kuah tuhe, berupa masakan santan dicampur pisang klat barat(sejenis pisang raja) atau nangka masak serta gula.

Bagi yang alergi kuah tuhe mungkin karena luwihnya (gurih), kue Apam dapat pula dimakan bersama kukuran kelapa yang dicampur gula. Bahkan yang memakan Apam saja (seunge Apam), yang dulu di Aceh Besar disebut Apam beb. Selain dimakan langsung, dapat juga Apam itu direndam beberapa lama ke dalam kuahnya sebelum dimakan. Cara demikian disebut Apam Leu’hop (Apam Basah). Setelah semua kuahnya habis dihisap barulah Apam itu dimakan. Mangat that lagoo ( enak sekali euy... hahaa..)

Dalam kenduri tersebut, apam yang telah dimasak bersama kuah tuhe siap dihidangkan kepada para tamu yang sengaja dipanggil/diundang ke rumah dan disuatu tempat. Dan siapapun yang lewat/melintas di depan rumah, pasti sempat menikmati hidangan Khanduri Apam ini. Bila mencukupi, kenduri Apam juga diantar ke Meunasah (surau di Aceh) serta kepada para keluarga yang tinggal di kampung lain. Begitulah, acara toet Apam diadakan dari rumah ke rumah atau dari kampung ke kampung lainnya selama buleuen Apam (bulan Rajab) sebulan penuh.

Sejarah Khanduri Apam.

Tradisi Khanduri Apam ini adalah berasal dari seorang sufi yang amat miskin di Tanah Suci Mekkah. Si miskin yang bernama Abdullah Rajab adalah seorang zahid yang sangat taat pada agama Islam. Berhubung amat miskin, ketika ia meninggal tidak satu biji kurma pun yang dapat disedekahkan orang sebagai kenduri selamatan atas kematiannya. Keadaan yang menghibakan / menyedihkan hati itu, ditambah lagi dengan sejarah hidupnya yang sebatangkara, telah menimbulkan rasa kasihan masyarakat sekampungnya untuk mengadakan sedikit kenduri selamatan di rumah masing-masing. Mereka memasak Apam untuk disedekahkan kepada orang lain. Itulah dasar dari tradisi toet Apam (memasak Apam) yang sampai sekarang masih dilaksanakan masyarakat Aceh.

Selain pada buleuen Apam (bulan Rajab), kenduri Apam juga diadakan pada hari kematian. Ketika si mayat telah selesai dikebumikan, semua orang yang hadir dikuburan disuguhi dengan kenduri Apam. Apam di perkuburan ini tidak diberi kuahnya. Hanya dimakan dengan kukuran kelapa yang diberi gula (di lhok ngon u). Khanduri Apam juga dilaksanakan pada upacara Tepung Tawar (peusijuek), seperti Khanduri Blang (kenduri sawah), Acara Maulid Nabi Muhammad SAW, dan diacara Khanduri La'ot ( kenduri Laut ).

Bahkan baru – baru ini, ada usulan untuk menerapkan khanduri apam itu ditujukan kepada laki-laki yang tidak shalat Jum’at ke mesjid tiga kali berturut-turut, sebagai dendanya diperintahkan untuk membuat kue apam sebanyak 100 buah untuk diantar ke mesjid dan dikendurikan (dimakan bersama-sama) sebagai sedekah. Dengan semakin seringnya orang membawa kue apam ke mesjid akan menimbulkan rasa malu karena diketahui oleh masyarakat bahwa orang tersebut sering meninggalkan shalat Jum’at.

Sumber: tanohaceh.com