Slider

VIDEO

BLOGGING NOTE

KULINER

SEJARAH

ACEH SELATAN

S O S O K

Gallery

Cerbung Bag.6: Kisah Sang Pendekar ( tamat)

Pada bagian terdahulu kita telah mengetahui bahwa Mahiga sangat mencintai Srikandi, dara yang telah diselamatkannya dari cengkraman Si Trisula Iblis.

Tak lama berselang pesta pernikahan pun digelar dengan meriah dikampung itu, Ki Wiguno sebagai kepala kampung sudah tentu mengadakan pesta pernikahan anaknya itu dilengkapi oleh banyak acara sehingga mampu menghibur tamu undangan yang terdiri dari kalangan dunia persilatan dan  beberapa kenalan dari kotaraja  sekaligus menghibur hati rakyatnya.

Sepasang pengantin duduk dengan malu – malu di pelaminan yang telah disediakan di dekat tamu undangan. Tak henti – hentinya para tamu mengungkapkan kekaguman mereka terhadap sepasang mempelai. Sungguh pasangan yang serasi, lelakinya tampan dengan tatapan matanya yang tajam melambangkan keperkasaan dan kegagahan sementara mempelai wanitanya adalah seorang gadis yang cantik, ayu dan molek sehingga sangat pantas mendampingi si mempelai pria yang gagah itu. Semua bahagia dan larut dalam tawa dan senda gurau.

Semakin malam acara semakin meriah, sepasang pengantin sudah mengundurkan diri kedalam untuk menikmati cinta mereka dikamar pengantin. Para tamu sebagian sudah ada yang pamit dan sebagian lagi masih betah menyaksikan aneka tarian dan jamuan dari tuan rumah yang melayani mereka penuh persahabatan. Gelak tawa tak putus putusnya menghiasi malam.

Sementara itu didalam kamar pengantin, Mahiga dengan penuh cinta memeluk istrinya yang molek itu sambil berkata
“ Adik Sri, syukurlah acaranya berlangsung tenang dan damai. Aku sudah khawatir kalau kalau musuhku datang dan membuat kekacauan disini...”
“ Tenangkan hatimu kanda...” dengan lembut srikandi menenangkan hati suaminya, “ Kita telah sah sebagai suami istri. Aku bersumpah sampai mati akan berbakti padamu...”
Mahiga sangat bersyukur mendengar sumpah dari istrinya dan dia lalu mengecupi bibir yang indah itu kemudian mereka pun larut dalam suasana yang romantis mereguk madu cinta yang menggelora.

Mahiga menghempas nafas berat, ketika menyadari bahwa kenangan tersebut sebenarnya membuat hatinya berduka kembali. Kebersamaannya dengan wanita yang dicintainya tidak berlangsung lama. Setelah empat tahun menikah, mereka dikaruniai seorang putra yang sehat dan tampan bernama Sanjaya. Kala itu sang anak sudah berumur dua tahun, sedang bermain – main disamping rumah bersama kakeknya. Sementara itu Mahiga sedang pergi ke kota raja untuk menjual hasil kebun mereka dengan ditemani dua orang pembantu. Srikandi dan ibunya sedang menyiapkan makanan didapur.

Dari jauh terdengar derap langkah kaki kuda mengarah kerumah mereka. Kedatangan empat penunggang kuda itu sangat mengagetkan tuan rumah apalagi melihat tampang mereka yang sangar dan kasar. Dalam hati Ki Wiguno sudah merasa curiga. Segera dia merangkul Sanjaya dan menyuruhnya untuk masuk kedalam.

Sanjaya sangat patuh pada kakeknya lalu dengan langkah lucu anak kecil itu berlarian masuk kedalam. Ki Wiguno berusaha meredam kegelisahan hatinya. Sambil tersenyum dia merangkapkan tangan didada sebagai tanda penghormatan sekaligus menyapa.
“ Ada apakah gerangan sehingga tuan – tuan yang gagah perkasa menuju kegubukku yang buruk ini..?” 
Mendengar ucapan dari Ki Wiguno itu, seketika para pendatang itu tertawa terbahak bahak. Salah seorang dari penunggang kuda itu, lalu turun dari kudanya dan berkata.
“ Apakah engkau ini mertua nya si Pedang Naga?” bentak lelaki itu dengan kasar.

Terkesiap juga muka Ki Wiguno tatkala mendengar julukan menantunya disebut oleh orang itu.
“ Sungguh saya orang tua tidak mengerti akan pertanyaan saudara yang gagah ini, menantu saya hanya seorang biasa..” Jawab Ki Wiguno masih berusaha untuk tenang.

Lelaki bercodet yang masih diatas kuda mendengus keras. Dia berjuluk Si Cakar Setan, adalah orang kedua dari enam gerombolan rampok.
“ Huh... jangan membohongi kami, orang tua. Kami tidak akan membikin susah dirimu asalkan kau berterus terang kalau engkau adalah mertuanya...”


Ki Wiguno merasakan betapa sukar untuk membantah. Apalagi dia adalah kepala kampung yang jujur sehingga sudah tentu kesulitan untuk memutar lidah. Tapi keadaan ini sungguh berbahaya apabila kedatangan mereka bermaksud tidak baik pada menantunya.
“ Tuan, memang benarlah apa yang tuan katakan itu, Saya tidak akan mendustakan apa yang saya ketahui, menantu saya hanya petani dan saat ini sedang menjual hasil kebun kami di kota raja..” Ki wiguno tetap mempertahankan jawabannya itu.
“ Hei orang tua, Kami adalah empat Iblis Gunung Gombang, saat ini juga kami bisa mencabut nyawa anjingmu itu. Bicaralah terus terang sebelum kesabaranku habis..!!” Bentak penunggang kuda yang sedang memutar mutar goloknya. Orang ini berjuluk Si Golok Setan.

Walaupun Ki Wiguno tetap pada jawabannya dan berusaha tenang, namun keringat sudah sebiji jagung menetes dijidatnya. Siapa yang tidak takut pada gerombolan perampok kejam yang berjuluk Iblis Hutan Gombang . Mimpipun dia tidak menyangka kalau hari ini akan berhadapan dengan mereka.

Dengan menghela nafas Ki Wiguno memandang lelaki yang berdiri didepannya.
“ Tuan, untuk apa saya berdusta. Apa yang saya katakan tadi adalah kenyataan yang sesungguhnya. Kami adalah....” Belum sempat Ki Wiguno menyelesaikan ucapannya, sekonyong konyong sebuah tendangan sudah bersarang diperutnya.
“ Buukkk...!!”
“ Heekk...!!”

Ki wiguno terlempar kebelakang, perutnya sakit seperti pecah. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Sambil menahan sakit Ki Wiguno berusaha untuk duduk, akan tetapi dengan cepat tamparan keras menghantam pipinya hingga bengap. Bibirnya pecah berdarah.
“ Kau pikir bisa menipu kami, bangsat tua?!!” bentak lelaki yang memegang cambuk. Dia dikenal berjuluk Si Cambuk Setan. Orang pertama dalam gerombolan.

Secepat kilat tubyhnya menghampiri Ki Wiguno yang masih terduduk kesakitan ditanah lalu tangannya mencakal leher pakaian orang tua itu. Ki Wiguno sudah tersenggal – senggal nafasnya.
“ Kalian tunggu apalagi, segera geledah rumah itu, kalau tidak bertemu dengan bangsat itu, bunuh saja keluarganya..!!”. Perintah si Cambuk Setan pada kepada anak buahnya.

Serentak dengan itu berlompatanlah mereka dari kuda dan segera melabrak kedalam rumah. Melihat itu Ki Wiguno terkesiap.

Taklama kemudian terdengar suara benda – benda jatuh didalam rumah disusul oleh teriakan ngeri anak bininya. Ki Wiguno pedih hatinya, wajahnya pucat pias menahan keresahan.
“ Tuan, kenapa kalian berbuat seburuk itu pada kami?” dengan suara terputus – putus ki wiguno berusaha untuk mendapat tahu. Dengan sekali banting, tubuh Ki Wiguno terlentang kembali ditanah.
“ Hei orang tua, baiklah akan kukatakan urusan kami terhadap menantumu yang sok pendekar itu. Kami akan membalas dendam atas kematian dua orang saudara kami yang telah dibunuhnya dulu. Sudah mengerti kau? “ Jawab si Cambuk Setan.
“ Tapi... tapi orang itu bukan menantu saya, menantu saya sedang berdagang dikota raja...” Jelas Ki Wiguna dengan susah payah. Si Cambuk Setan mendengus.
 “ Walaupun dia tidak berada disini, maka kalian satu rumah harus mati, hahahahaaa...”.
Ki Wiguno pucat pasi mendengar ucapan perampok itu, pedih hatinya membayangkan istri, anak dan cucunya dibantai oleh perampok ini.
“ Tapi,.. tapi kami tidak bersalah apa – apa pada kalian, kenapa harus dibunuh..?” dengan ketakutan ki wiguno bertanya kembali. Si Cambuk Setan kembali tertawa seram
“ Agar dia merasakan sakitnya apabila keluarga sendiri dibunuh orang...” dengan dingin si cambuk setan menjelaskan. Seketika kerongkongan Ki wiguno tercekat.

Tipis harapannya untuk kabur menyelamatkan keluarganya. Apalagi sesaat kemudian terdengar jeritan ngeri istrinya disambung dengan jeritan dari putrinya. Ah.. ternyata mereka telah menjadi korban keganasan perampok jahanam ini, bisik hatinya dengan pilu.

Mengingat semua kekejian mereka itu, Ki Wiguno naik pitam, serentak dia bangkit dan memukul wajah si Cambuk Setan dengan sekuat tenaga. Tapi semua serangan tersebut hanya mendapat angin apalagi keadaan tubuhnya sudah tua dan tenaga tidak ada lagi, dia hanya jadi permainan si cambuk setan.

Setelah puas mempermainkan orang tua itu, dengan keji si Cambuk Setan menghantam kepala Ki Wiguna hingga retak. Tanpa ampun tubuh orang tua itu rubuh ketanah sekalian dengan terlepasnya nyawa dari raga.

Si cambuk Setan tertawa puas, suara tawanya menggema ke seantero kampung sehingga membuat warga kampung menggigil ketakutan. Mereka sudah melihat secara sembunyi – sembunyi bagaimana kepala dusun mereka mati menggenaskan. Sungguh disayangkan, sang menantu yang dikenal dengan si pedang dewa itu sedang dikotaraja sehingga malapetaka itu berjalan dengan mulus.

Setelah rombongan perampok itu berlalu, segera warga berdatangan kerumah kepala dusun. Mereka bergidik melihat darah berceceran di dalam rumah disusul dengan diketemukan dua sosok tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi.

Mereka itu adalah srikandi dan ibunya, sementara itu jenazah Ki Wiguno sudah diurus warga kedalam rumah. Hanya tubuh si kecil yang bernama sanjaya tidak diketemukan oleh warga, lalu beramai – ramai mereka berusaha mencari disekitar rumah hingga terdengar oleh mereka suara tangis tersendat – sendat dari balik lemari buruk dibelakang rumah.

Ternyata ada rongga seukuran tubuh manusia dibalik lemari itu, mungkin karena sudah tidak mampu lagi untuk melarikan diri, srikandi lalu memasukkan anaknya kesitu sehingga terhindar dari pembantaian.  
   
Kita tinggalkan sejenak kedukaan dirumah kediaman Ki Wiguno dan mari kita lihat keadaan Mahiga yang sedang berada dikotaraja. Matahari sudah agak tinggi. Mahiga merasakan sesuatu yang tidak enak hinggap dihatinya. Sungguh dia gelisah. Berkali kali pikirannya terkenang pada istrinya seolah – olah ada panggilan untuk segera pulang. Hal itu segera dirundingkan dengan kedua pembantunya.
“ Entah kenapa perasaanku tidak enak, seakan telah terjadi sesuatu yang buruk dirumah” Ungkap Mahiga pada wirno dan gatra. Kedua anak muda itu saling berpandangan seakan memaklumi isi hati majikannya.
“ Kalau demikian juragan lebih baik pulang duluan saja, biarlah saya dan gatra yang tinggal sambil mengurus dagangan kita disini”. Usul si wirno dan dibenarkan oleh gatra.
“ Benar juragan, kami akan segera pulang apabila dagangan kita telah habis”. Timpal Gatra.
Mahiga sesaat melamunkan perkataan kedua pembantunya. Kemudian sambil berdiri dia berkata.
“ Kalian urus baik – baik urusan disini, apabila besok aku belum kembali kesini, segeralah menyusulku pulang”. Ucap Mahiga.
“ Baik Juragan...”. Jawab wirno dan gatra serempak.

Dengan bergegas Mahiga berjalan menuju pintu keluar kota. Kuda sengaja ditinggalkan agar Wirno dan Gatra tidak kerepotan membawa dagangan nanti. Setelah dirasa sepi, secepat kilat Mahiga berlari dengan menggunakan ilmu lari cepatnya “langkah dewa angin” tubuhnya melesat. Hanya kelebatan bayangan saja yang nampak.

Jarak antara kota raja dan perkampungannya sangat jauh. Diperlukan waktu selama 2 hari untuk bisa sampai kekampung dengan perjalanan berkuda. Akan tetapi karena hatinya sudah tidak enak sekali, Mahiga menggeber tenaga dalamnya kekaki membuat langkahnya secepat angin berhembus dan ketika matahari sudah condong ke barat, dia sudah sampai dibatas kampungnya.

Untung baginya karena sewaktu melintasi hutan yang memisahkan batas kampung  dengan jalan umum tidak mendapatkan halangan apapun. Walaupun demikian, langkahnya tetap tidak berubah. Semenit kemudian dia sudah berada didepan rumah.

Sesaat langkahnya terhenti dan merasa heran ketika melihat banyak warga berkumpul dirumahnya. Beberapa orang tua segera menghampiri Mahiga dengan wajah muram. Mahiga merasakan nafasnya sesak. Pikirannya berkecamuk bermacam – macam bayangan buruk. Di gamitnya bahu seorang bapak yang dikenalnya sebagai pembantu bapak mertuanya.
“ Ki marta, ada apakah gerangan? Kemana mereka...??” Demikian dengan tergagap Mahiga bertanya. Dilihatnya Ki Marta menghela nafas.
“ Anaknda Mahiga, mereka telah datang kesini...”. ucap Ki Marta dengan galau. Mahiga tertegun.
“ Siapa yang datang ki?” cepat – cepat Mahiga kembali bertanya. Sungguh hatinya sangat kalut.
 “ Empat iblis dari gunung gombang. Mereka telah.... ” tersendat sendat Ki Marta menjawab. Hatinya tidak tega mengatakan kejadian yang sebenarnya.

Mahiga merasa kerongkongannya tercekat. Lemah lunglai tubuhnya. Barulah dia mengerti bahwa keluarganya telah binasa ditangan empat iblis, perampok dari gunung gombang.

Memang beberapa bulan yang lalu dia telah bentrok dengan mereka karena gerombolan itu berusaha menculik anak perawan kampungnya. Mahiga menghadapi gerombolan itu sendirian. Saat itu jumlah perampok masih utuh yakni enam orang.

Pada bentrokan itu dua orang binasa dipedangnya. Sementara itu empat perampok lain terpaksa melarikan diri dengan terluka sambil membawa mayat saudara mereka yang tewas. Sungguh dia tidak menyangka pembalasan para iblis itu berlangsung disaat dia tidak berada dirumah dan menyebabkan keluarga dan istrinya tewas.

“ Istriku, Ooohh... Anakku....!!” keluh Mahiga dengan penuh kehancuran. Airmatanya luruh bersama duka nestapa ini. Ketika dia ingat pada putranya, dengan langkah kilat seketika dia sudah berada didepan pintu. Matanya nanar melihat beberapa sosok terbujur kaku diruang tengah dan dikelilingi oleh para tetangga yang bersedih hati.

Dengan langkah lunglai Mahiga menghampiri jasad istrinya. Sesaat lidahnya kelu tak mampu bicara. Pilu rasa dihati.
“ Adik Sri,... maafkan aku.. Oohh... aku bersalah padamu sehingga kalian jadi begini...”. Ratap tangis Mahiga terdengar lirih diantara sedu sedan para pelayat perempuan.

Hampir gila rasanya Mahiga saat itu. Begitu berat dia menerima musibah ini karena dia sangat mencintai istrinya. Kebahagiaan hatinya telah direnggut secara paksa oleh kematian mereka yang selama dua tahun ini sangat dekat dalam kehidupannya. 
Tiba – tiba..
“ Ayah...” sebuah suara membuyarkan kesedihan yang membuncah didalam hati. Dilihatnya sanjaya berjalan tertatih - tatih kearahnya. Dengan penuh rasa syukur Mahiga bergegas merengkuh tubuh mungil itu dan dengan tangis tertahan dia berkata
“ Sanjaya anakku, kuatkan hatimu... suatu saat akan kita tuntut keadilan untuk kakek nenekmu dan ibumu. Ayah berjanji nak..”.  Bisik Mahiga ditelinga Sanjaya. Anak kecil itu hanya menatap polos pada ayahnya yang sudah basah oleh airmata.

Sanjaya masih sangat kecil untuk memahami apa yang telah terjadi. Kematian tragis Ibu dan kakek neneknya juga belum bisa dimengerti olehnya. Namun satu hal yang bisa ditangkap oleh matanya adalah banyak orang- orang dikampung ini sangat baik padanya.

Setahun telah berlalu, keadaan Mahiga sudah berbeda daripada setahun yang lalu. Sekarang tubuhnya terlihat kurus dan kuyu. Tiada terlihat mata yang bercahaya penuh semangat seperti setahun yang lalu sekarang hanya nampak kuyu dalam kesedihan.

Kematian istri dan mertuanya setahun yang lalu masih belum dapat terlupakan dan itu adalah pukulan telak yang hampir tidak kuat dia terima. Dalam hati sudah ditetapkannya bahwa suatu saat nanti dia akan mencari para pembunuh itu dan melenyapkan mereka selamanya dari muka bumi ini. Untuk saat ini dia harus fokus pada anaknya. Hanya karena melihat anaknya Sanjaya itulah yang membuat tekat untuk hidup normal masih ada dalam hati. Karena melihat tawa anaknya itu  rasa duka hatinya sedikit terobati. Sambil menata kembali hatinya, Mahiga mulai melatih anaknya dengan latihan dasar ilmu silat agar sewaktu – waktu tubuh kecil itu siap membela diri. 

Sanjaya sudah setahun dibekali oleh dasar – dasar ilmu silat yang hebat. Sekarang umurnya sudah 5 tahun. Mahiga sangat kagum melihat perkembangan sanjaya. Walaupun masih anak – anak akan tetapi sanjaya terlihat kuat, kokoh dan rajin bekerja sehingga membuat Mahiga semakin sayang. Kulitnya putih dan wajahnya tampan dengan sinar mata yang bercahaya seakan – akan Mahiga melihat wajah sitrinya Srikandi membekas diwajah anaknya itu
.
Berkali – kali dia menghela nafas dan kembali menguatkan hati kemudian dengan disaksikan oleh langit dia bersumpah dihadapan pusaran istrinya akan mendidik anak mereka dengan sungguh – sungguh walaupun maut taruhannya.

Mahiga mengutarakan niatnya pada penduduk untuk mendirikan sebuah perguruan silat dikampung tersebut. Hampir seluruh penduduk mendukung usul dari Mahiga karena dengan adanya perguruan silat akan memperkuat keamanan diperkampungan mereka.

Akan tetapi Mahiga tidak langsung melaksanakan niatnya untuk membangun perguruan karena saat ini dia akan pergi mencari pembunuh keluarganya hingga dapat ditumpas. Semua itu dikemukakannya pada kepala dusun yang baru bernama Ki Patya beserta beberapa tokoh masyarakat sesaat mereka sedang duduk dipendopo desa. Mahiga sekalian minta tolong pada Ki Patya dan warga dusun agar mengasuh anaknya selama dia tidak berada didusun. Ki Patya beserta warga menerimanya dengan senang hati karena mereka simpatik pada penderitaan Mahiga dan anaknya sanjaya sehingga mereka berebutan untuk mengasuh sanjaya dirumah mereka. Dengan penuh rasa haru Mahiga mengucapkan terima kasih pada mereka.

“ Sanjaya, untuk beberapa waktu engkau ayah tinggalkan...”. Ucap Mahiga. Tangannya mengelus rambut hitam sanjaya.
“ Ayah mau kemana?”. Tanya sanjaya. Mahiga tersenyum. Lalu diraihnya tubuh kecil itu.
“ Ayah akan membalaskan kematian keluarga kita Nak, untuk itulah engkau ayah tinggalkan bersama warga dusun. Tinggallah dirumah Ki Patya dan patuhi mereka. Bersediakah engkau anakku?
Sanjaya mengangkat mukanya dan dia berkata
“ Bersedia Ayah, anak akan patuh...”. Mahiga mengangguk puas atas ketaatan anaknya yang baru tumbuh itu.

Mahiga lalu membimbing anaknya menuju rumah Ki Patya. Setelah meninggalkan sedikit uang untuk biaya anaknya selama menginap, Mahiga segera meninggalkan dusun yang penuh duka itu untuk mencari sarang pembunuh keluarganya dan tujuannya adalah ke utara.

Waktu terus berlalu, tanpa terasa sudah hampir 2 tahun Mahiga berkelana untuk mencari jejak pembunuh itu. Sudah banyak dia bertanya pada sahabat – sahabatnya kaum persilatan tentang tempat tinggal para rampok hutan gombang. Sejauh ini masih samar hingga suatu hari dia mendapat surat rahasia yang menyebutkan posisi orang yang dicari. Mahiga sangat berterima kasih pada pengirim surat itu dan dengan penuh semangat dia lantas menuju kesarang rampok sesuai dengan petunjuk.

Akhirnya Mahiga menemukan sarang perampok tersebut, setelah mempelajari situasi maka dimulailah misi balas dendam itu. Mahiga laksana harimau terluka mengamuk dan membuat para rampok itu kalang kabut. Dengan segenap tenaga yang ada, Mahiga menghajar empat rampok hutan gombang tanpa rasa kasihan.

Walaupun dikeroyok lebih dari 14 orang karena gerombolan itu sudah mulai berkembang dan menerima anggota baru, namun Mahiga seperti kesetanan bergerak, memukul, menerjang dan menusukkan pedangnya pada musuh yang mencoba menyentuhnya hingga terlihatlah tubuh – tubuh yang terlempar keluar kalangan pertempuran dengan keadaan tewas.

Setelah bertempur selama 4 jam akhirnya satu persatu pentolan gerombolan rampok itu tewas di ujung pedangnya hingga satu ketika hanya dia dan si cambuk setan yang masih berdiri diantara mayat yang bergelimpangan. Tubuh dan pakaian Mahiga sudah memerah oleh darah lawan yang sudah tewas. Sorot matanya merah penuh dendam, dengan pedang berlumuran darah dia menuding pada si cambuk setan yang pucat pasi ketakutan.

“ Iblis kalian.... Pengecut hina kalian semua....!!!” bentak Mahiga menggeledek. Si cambuk setan menggigil. Dia ibaratnya seperti pelanduk yang sedang berhadapan dengan harimau lapar, sehingga untuk melarikan diri pun sudah tidak mungkin lagi. Bentakan Mahiga membuat telinganya mendenyut sakit.  Makin guguplah dia hingga bersuarapun sudah tidak kuasa.
“ Hari ini, aku akan membalaskan kematian keluargaku, Kau harus merasakannya seperti kawan – kawan mu itu...”. Desis Mahiga. Walaupun cuma mendesis namun ditelinga si cambuk setan sangat jelas terdengar dan semakin mengkuncupkan hatinya. Ngeri matanya menatap Mahiga yang berubah seperti malaikat pencabut nyawa.

Mahiga lalu Melangkah kearah si cambuk setan. Sorot matanya tajam menusuk. Si cambuk setan berusaha mundur dengan hati kebat – kebit namun sudah terbentur dinding ruangan sehingga tidak mampu apa – apa lagi. Si cambuk setan kemudian berlutut dihadapan Mahiga sambil meratap.
“ Ampun pendekar.... jangan cabut nyawaku... kasihanilah aku...”. dengan menggerung – gerung dia meratap memohon belas kasihan. Sayang sekali, Mahiga sudah dirasuki dendam sedalam lautan sehingga sudah tidak ada lagi rasa kasihan dihatinya terhadap pembunuh keluarga.
“ Apa kau bilang..? hahahaaaa.... “. Terdengar suara tawa Mahiga menggelegar disore itu. Tawa bercampur duka sehingga terasa menyeramkan bagi orang lain. Si cambuk setan menggigil ketakutan sambil terus memohon ampun.
Setelah puas mengumbar tawa, Pedang naga terangkat keatas dan siap untuk menebas kutung leher laan.
“ Bersiaplah kau menyusul kerabatmu, dan minta ampunlah pada keluargaku diakhirat....”. Selesai berucap, maka berkelebatlah pedang naga memutus kutung kepala sicambuk setan tanpa mampu dielakkan lagi. Bagai orang gila, Mahiga kembali mengumbar tawa. Suaranya yang seperti suara setan itu bergema lantang memenuhi hutan rimba itu dan membuat burung – burung yang sedang hinggap beterbangan ke angkasa akibat getaran tenaga dalam yang mengguncang pendengaran mahkluk disekitar tempat itu.

Setelah puas,matanya menyapu mayat – mayat yang berserakan. Sesaat dia ingat pada istrinya sehingga dengan terisak haru dia berbisik.
“ Istriku, tenanglah kau disisi tuhan, sakit hatimu sudah kubalaskan...”.

Sore semakin pasti berganti malam, sebagai seorang pendekar dia mau tidak mau harus menguburkan sosok – sosok tak bernyawa itu karena setelah raga itu kosong, maka tiada lagi kejahatan yang akan ditimbulkan. Apalagi dengan membiarkan mayat – mayat membusuk maka penyakit akan menyerang kampung – kampung yang berdekatan dengan bekas sarang gerombolan rampok ini. Dengan menggunakan perkakas seadanya Mahiga menggali lubang yang cukup lebar untuk menguburkan mayat – mayat tersebut.

Mahiga dengan rasa puas kembali melangkah. Setelah membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya, Dia akan pulang kedusun karena sudah sangat rindu pada anaknya. Tanpa terasa sudah lewat 2 tahun dia meninggalkan sanjaya bersama warga dusun yang sangat baik hati. Lalu dengan langkah lapang Mahiga menuju selatan. Cuma Sanjaya yang tersisa, dan itu sudah cukup untuk membawa langkahnya pulang kembali.

Begitulah suka duka sang pendekar, bisik Mahiga perlahan. Sudah puas rasanya mahiga melamunkan masa lalunya. Dia kemudian melangkahkan kaki kedalam rumah untuk menjumpai anak lelakinya.

Mahiga atau Si Pedang Naga sudah mulai memahami tentang kedukaan karena hidup adalah permainan hati yang menghadirkan suka dan duka untuk dirasakan. Semua itu adalah pelajaran yang sangat berharga untuk menguatkan mental. Apalagi bagi sang pendekar yang hidupnya selalu membela kebenaran, sudah pasti perjalanan hidupnya penuh liku, banyak cobaan dan tantangan dan jika semua itu tidak mampu dikuasai dapat dipastikan kejahatan terus merajalela dan kebenaran akan sulit ditegakkan kembali.

Setahun setelah pulangnya Mahiga kedusun dan sudah berkumpul kembali dengan anaknya, Maka pelaksanaan niat untuk membangun sebuah perguruan silat akhirnya terlaksana. Masyarakat bahu membahu dalam pekerjaan itu hingga dalam beberapa minggu, sudah berdiri bangunan yang kokoh dikelilingi oleh pagar yang tinggi terbuat dari pohon jati.

Letak perguruan itu tidaklah jauh dari dusun sehingga dalam keadaan apapun akses keluar dan akses masuk berjalan normal. Warga dusun sangat senang dan bangga karena telah berpartisipasi dalam pembangunan perguruan silat tersebut, tanpa disuruh mereka ramai – ramai mengabarkan kesetiap kampung bahwa didusun mereka telah berdiri sebuah perguruan silat yang diketuai oleh Si Pedang Malaikat. Maka berbondong – bondonglah para remaja dan pemuda mendaftarkan diri agar diterima dalam wadah perguruan itu.

Begitupun dalam kalangan dunia persilatan golongan putih, banyak dari mereka yang kenal maupun yang cuma mendengar tentang sepak terjang sipendekar ikut mendoakan semoga dalam arahan Mahiga akan mampu melahirkan taruna – taruna muda yang kuat dan bijaksana untuk berbakti pada bangsanya. Pada acara peresmian, Mahiga dan Sanjaya tampil dipodium. Dengan disaksikan oleh tamu undangan dari kalangan persilatan maupun dari warga, Mahiga mengucapkan terima kasih dan mengumumkan nama perguruan itu adalah “ Perguruan Pedang Naga”.

Waktu terus berlalu, Mahiga tidaklah muda lagi karena suka dan duka hidupnya telah memadamkan niatnya untuk berkelana. Setelah memimpin hampir 100 murid, Mahiga telah kembali bersemangat dan terus melatih membekali para murid dengan ilmu silat dan kesaktian lainnya sehingga dia merasa sangat puas dengan hasil yang diperoleh oleh para murid angkatan pertama. Hanya satu yang masih menjadi pertanyaan dihatinya yakni benda yang didapatkan sewaktu di negeri jepon dulu belum berhasil diselidikinya, karena khawatir terjadi sesuatu, maka benda tersebut dimusnahkan.

Pada malam harinya disaat Mahiga membekali para murid dengan pemahaman rohani, dia sering mengatakan bahwa tiada yang abadi didunia ini karena semua adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Esa. Hidup dan mati sudah pula digariskan.

Kedukaan hanya permainan hati semata, semakin diturutkan maka buruklah jadinya. Sebagai manusia tidak pantas rasanya untuk berlarut – larut dalam duka, karena semua itu sudah takdir hidup yang telah digariskan. Sudah seharusnya bagi yang masih hidup untuk berbuat kebaikan, menegakkan keadilan dan selalu mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadinya sehingga akan terwujutlah keseimbangan dalam kehidupan manusia.

Demikianlah akhir dari cerita ini, penulis mencoba mengajak pembaca sekalian untuk dapat mempergunakan hidup sebaik – baiknya karena sebagai makhluk sosial kita dituntut untuk peduli pada sesama, lingkungan dan juga negara supaya terjaga selalu dan menimbulkan ketenangan dalam bermasyarakat.
Sampai bertemu lagi dilain cerita.

Saleum.



Aceh Besar, 07 Januari 2012


Cerbung Bag.5 : Kisah Sang Pendekar

Akhirnya Mahiga merasa tak tahan lagi menahan rindu, dengan mengerahkan ilmu lari cepat, tubuhnya meluncur seperti bayangan setan menuju perkampungan.
  
Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat tinggi, mudah saja baginya melompat dari atap rumah keatap rumah yang lain tanpa menimbulkan suara sehingga tidak diketahui oleh warga kampung yang sedang duduk diteras menikmati sinar purnama. Tak lama kemudian dia sudah berada diatas atap rumah sigadis.

Degup jantungnya memacu dengan kencang seakan akan dia akan menemui putri kaisar saja. Lalu dengan gerakan enteng tanpa suara tubuhnya meluncur kebawah dan berdiri didepan jendela kamar sigadis.


Sejenak hatinya ragu, pantaskah dia bertemu gadis itu dengan cara begini ataukah dia harus meminta ijin dari kedua orang tua sigadis agar diperbolehkan menemui anaknya yang jelita itu. Namun hanya sesaat dia meragu lalu dengan mempergunakan ilmu mengirim suara dari jarak jauh, Mahiga mengatakan pada srikandi bahwa dia sekarang berada didepan jendela. Srikandi yang saat itu sedang melamun memikirkan sang pemuda tampan itu terkejut tatkala mendengar suara yang selalu dikaguminya itu bergema ditelinganya.


“ Adik Sri, bulan purnama sangat indahnya, aku ingin menikmati sinar itu denganmu, bersediakah kau menemuiku yang sekarang ada didepan jendela kamarmu...?”.
Suara yang mengiang ditelinganya itu sangat jelas dan dia merasa seoalah sedang bermimpi mendengar suara itu lagi. Sesaat dia mengabaikan suara itu dan menganggap mungkin dia salah mendengar.

Akan tetapi ketika suara itu tidak lagi mendenging ditelinganya, dia jadi penasaran juga. Lalu dengan langkah ragu – ragu dia berjalan ke jendela dan perlahan daun jendela dibuka. Apa yang dilihatnya saat itu hampir saja membuatnya menjerit kegirangan tatkala melihat seorang pemuda tampan yang dirindukan itu sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Srikandi sesaat tidak mampu berkata – kata.

“ Maafkan aku dik sri karena telah mengganggumu...” Ucap Mahiga pelan. Dan dengan beberapa langkah saja dia sudah berada persis didepan srikandi yang masih terpana tak percaya. Mahiga tersenyum dan dengan sopan dia menyentuh jari telunjuknya ke hidung gadis itu lalu dia menggoda.

“ kenapa dik sri memandangiku seperti melihat hantu...?” seloroh Mahiga sambil menahan tawa. Muka srikandi merona merah dan dengan tersipu Srikandi menjawab.
“ Aku seperti mimpi melihat kanda kembali...”. lalu dia menundukkan mukanya yang merona merah karena jengah dengan ucapannya tersebut seakan telah menampakkan pada sipemuda bahwa dia sangat berharap dapat bertemu lagi.

Mendengar ucapan sang gadis, Mahiga sangat tersentuh apalagi sebutan kanda itu seakan membuat jantungnya hampir meledak saking bahagianya. Dia juga merasa rindu pada gadis ini, dan karena itupula malam ini dia datang kembali dan menjumpai gadis manis yang telah bersemayam dihatinya.
“ Adik Sri, maukah kau menemaniku menikmati bulan purnama itu diatas atap rumahmu...?” tanya Mahiga dengan suara terputus putus saking gugupnya. Mendengar permintaan pemuda itu mata sigadis membeliak indah tak percaya.
“ Apa..?? kanda ingin mengajakku keatas atap? Akan tetapi,...  bagaimana mungkin...” srikandi buru – buru menghentikan ucapannya, karena dia baru ingat bahwa pemuda didepannya itu berilmu tinggi sehingga hal tersebut tidak mustahil dilaksanakan.

Lain halnya dengan Mahiga, ketika dia mendengarkan ucapan si gadis, hatinya sedikit kecewa dan salah sangka.
“ maafkan aku adik sri, memang tak pantas diriku mengajakmu untuk menemaniku memandang rembulan malam ini, maafkan kelancanganku ini adik sri...”. ucap Mahiga dengan lemah.
“ Kanda Mahiga, bukan itu maksudku, aku tadi merasa tak kuat memanjat keatas. Tapi setelah aku menyadari bahwa dirimu yang berilmu tinggi tentu mampu melakukannya dan aku bersedia kanda...”. Jawab srikandi sambil tersenyum manis.

Mahiga bersorak dalam hati dan merasa bahwa harapannya berbalas. 
“ tapi kanda, bagaimana aku naik keatas, sudah pasti akan menimbulkan suara jika aku naik ke atap...”. Tanya srikandi dengan wajah meragu.
“ Hanya ada satu cara adik sri, akan tetapi sebelumnya kau maafkanlah aku jika usulku ini membuatmu marah padaku...”.
“ katakanlah kanda, aku tahu hatimu terlalu baik untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan sifat seorang pendekar...” jawab srikandi.

Dengan menarik nafas dalam – dalam, Mahiga berkata
“ Adik sri, jika kau tak keberatan, aku akan menggendongmu naik keatas, itupun jika kau percaya padaku..”. sahut Mahiga.

Mendengar itu srikandi sesaat memerah mukanya sesaat kemudian pucat, sungguh dia tak tahu harus bagaimana dengan usul si pemuda pujaannya. Jika cara itu yang dipakai sudah pasti tubuhnya akan dipeluk oleh sipemuda dan membayangkan itu semua, wajahnya semakin merah karena jengah dan malu. Melihat perubahan muka sigadis, Mahiga merasa tidak tega juga.

“ Adik sri, sudahlah... anggap saja usulku tadi tidak pernah terucap oleh bibirku”.
“ Tidak kanda, aku percaya padamu”. Srikandi lalu tertunduk, dengan menggigit bibir dia berkata lagi “ Aku mau untuk kau gendong ke atas, kanda”.

Lirih suara itu meluncur dari bibir yang indah itu akan tetapi sangat jelas terdengar oleh pendengaran Mahiga.
“ Kalau begitu, kau keluarlah adik sri, agar aku bisa menggendongmu naik keatas”. Ujar Mahiga. Tanpa ada keraguan, Srikandi melompat keluar dari jendela dengan dibantu oleh Mahiga sehingga tidak menimbulkan bunyi. Akhirnya Srikandi sudah berada diluar rumah berdiri disamping Mahiga.

Setelah menutup daun jendelanya perlahan tanpa suara, Tangan Mahiga dengan gemetar merengkuh tubuh yang harum itu agar rapat ketubuhnya. Sejenak pemuda itu tak tahu berbuat apa karena terlalu bahagia. Sementara srikandi merasakan tubuhnya melayang layang dengan berjuta rasa. Baru kali ini tubuhnya dipeluk oleh lelaki yang dia kagumi dan dia rindukan sehingga dia hanya mampu memejamkan mata dengan jantung berdebar kencang.

Mahiga akhirnya tersadar juga dari amukan rasa bahagia didada. Tidak boleh ‘ada fiktor diantara kita’ ucap hatinya memperingatkan.
“ Sudah siapkah engkau adik sri...?”. lirih terdengar suara Mahiga ditelinga sigadis. 
Srikandi cuma menganggukan kepalanya, baginya saat ini mulutnya sudah terkunci rapat ditindih oleh rasa bahagia dipeluk oleh sang pujaan. Kemudian sepasang lengannya memeluk leher sipemuda dengan kencang. Tubuhnya terasa lemas oleh luapan kebahagian yang bercampur aduk oleh batas norma.

Sambil mendekap tubuh sigadis, sekali enjot saja Mahiga membawa kekasih hatinya meluncur ke atas atap rumah yang bertingkat dua itu. Srikandi tidak merasakan semua itu karena perasaannya sudah dipenuhi berjuta pesona sehingga ketika sampai diatap, sepasang lengannya itu belum juga dilepasnya dan matanya masih saja dipejamkan seolah olah dia merasa masih didepan jendela kamarnya. Sungguh sebuah pemandangan yang menggairahkan bagi pemuda itu, akan tetapi Mahiga dengan sopan malah berbisik ditelinga sigadis.
“ Adik sri, kita sudah sampai diatas lho...”. .

Srikandi kemudian membuka matanya perlahan, dan dia melihat wajah sipemuda begitu dekat dengan wajahnya, seketika mukanya merona kembali. Mahiga buru – buru menarik wajahnya ke belakang.
“ Kau maafkanlah aku adik sri, aku tak bermaksud...”. Sebenarnya Mahiga ingin mengatakan bahwa dia tidak bermaksud untuk berbuat kurang ajar pada sigadis. Tapi karena jari tangan si gadis sudah memalang bibirnya membuat kata kata itu terputus.
“ Cukup kanda, engkau tidak salah. Hanya saja aku masih merasa bahwa kita masih berada dibawah”. Jawab srikandi dengan jujur sambil tersenyum malu. Jawaban itu membuat Mahiga berlega hati.

Mahiga lalu mengambil tempat duduk disamping sigadis berjarak satu jengkal darinya. Walaupun hatinya masih ingin memeluk tubuh gadis pujaannya itu namun jiwa kependekaran telah melarangnya sehingga dengan sopan dia menjaga jarak.

Sementara itu bulan purnama sedang bersinar dengan megahnya, dan kecantikan bulan tersebut membias diwajah srikandi yang jelita. Tak henti – hentinya Mahiga mencuri pandang pada sigadis dan dia merasa bahwa keindahan bulan itu kalah oleh kejelitaan yang dimiliki srikandi. Dia kagum hingga tanpa sadar terus menatapi wajah manis didepannya.
“ Kanda,...” tiba – tiba suara srikandi mengejutkan Mahiga yang sedang ‘asik’ memandangi wajah jelita itu. memerah wajahnya karena malu.
“ ada apakah adik sri..?” tanya Mahiga dengan kikuk. Srikandi tersenyum manis sekali. Dan masih tetap memandang rembulan itu srikandi kembali berkata.
“ Kanda, lihatlah bulan itu, sinarnya begitu terasa dihatiku saat ini. Aku belum pernah duduk diatap rumah ketika menikmati cahaya bulan, biasanya aku hanya duduk diteras rumah... tapi sekarang, kanda telah mengajakku menikmati semua itu diatas atap. Sungguh aku tak pernah sebahagia ini kanda ”.

Mahiga terharu mendengar pengakuan si gadis. Entah bagaimana Mahiga mulai merasa bahwa gadis itu sangat berarti dalam hidupnya. Ingin sekali dia bersama si gadis menikmati hari dan terus bersamanya. Mahiga sesaat termenung, matanya menatap bulatan rembulan dan berkata
“ Adik sri, akupun merasa sangat bahagia malam ini, sama halnya sepertimu, kau belum pernah merasakan kebahagian seperti yang malam ini kurasakan...”.
“ Kanda, bolehkah aku tau kenapa engkau bisa sebahagia malam ini ??” tanya srikandi sambil menatap lembut pada Mahiga.

Sesaat Mahiga terbungkam tak tahu harus berkata apa. Lalu ditatap wajah jelita didepannya.
“ eh, aku... aku... bahagia karena.... “ dengan tergagap gagap Mahiga berusaha menyelesaikan ucapannya. Dia merasa bingung menjawab karena sudah jelas akan membuka perasaan hatinya dihadapan sigadis . Dia merasa ragu dan takut ditolak.
“ Engkau kenapa kanda...?” kenapa wajahmu pucat...?” dengan penuh rasa khawatir srikandi mendekatkan dirinya dan menatap wajah pemuda didepannya dengan bingung.
Mahiga merasakan tubuh sigadis telah bersentuhan dengan tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang.
“ Aku tidak apa apa adik sri, aku hanya malu mengatakannya padamu...”. jawab Mahiga sambil tetap menundukkan wajahnya.

Srikandi pun menundukkan wajahnya seolah – olah sinar rembulan tidak lagi menarik dimata mereka. Gadis itu merasakan debaran jantungnya semakin tak menentu ketika sepasang jarinya digenggam lembut oleh Mahiga, Srikandi hanya memejamkan matanya.
“ kanda... kau kenapakah..?” dengan suara yang lirih gadis itu bertanya.
“ Adik sri, aku... aku... sayang... padamu...”. Mahiga akhirnya berhasil juga mengucapkan kata keramat tersebut.

Srikandi hanya terdiam seribu bahasa. Walaupun bibirnya tidak berkata apa – apa karena saking bahagianya, namun jemari tangan yang digenggam oleh Mahiga itu bereaksi positif. Jemari tangan yang lembut itu sudah membalas genggaman tangannya. Betapapun hati pemuda itu berbunga bunga atas pengakuan sang gadis tapi dia ingin kepastian.
“ adik sri, engkau belum menjawab pengakuanku, apakah engkau juga sayang padaku...?”. bisik Mahiga ketelinga sigadis yang saat ini sangat dekat ditubuhnya. Dengan senyum malu – malu srikandi menganggukkan kepala lalu membenamkan wajahnya didada bidang sipemuda. Dengan penuh rasa cinta, Mahiga menghadiahkan sebuah kecupan yang lembut dikening sigadis jelita itu. Srikandi hanya melenguh pasrah.

Dengan luapan rasa bahagia, sepasang kekasih itu berpelukan diatas atap dan disaksikan oleh bulan purnama mereka bertekad akan melanjutkan jalinan cinta itu kepelaminan.

Hubungan mereka itu ternyata mendapat restu yang baik dari orang tua sigadis, mereka bukan tidak tahu betapa setiap malam pemuda itu telah membawa anak gadisnya ‘kongkow’ diatas atap, mereka sengaja membiarkan pendekatan ‘alamiah’ itu berlangsung karena mereka juga sangat ingin mempunyai mantu seorang yang sakti dan berbudi seperti Mahiga.

Sudah banyak pemuda yang datang hendak meminang anak gadisnya dulu, akan tetapi hatinya tidak pernah merasa cocok dengan sifat dan kelakuan pemuda yang hendak maminang itu walaupun berasal dari kalangan bangsawan dan orang kaya dia tidak tertarik.

Sebagai orang tua yang sudah berpengalaman, matanya masih lihay menilai sifat manusia dari mata yang bersangkutan. Itulah sebabnya hingga berumur 18 tahun, srikandi masih menjomblo. Walaupun ada semacam keresahan menghinggapi perasaan mereka karena takut tidak akan mendapat mantu namun setelah bertemu dengan Mahiga alias si Pedang Malaikat ketika mengembalikan anak gadisnya yang sempat diculik oleh tokoh sesat dulu, dalam hati mereka sudah setuju apabila tuan penolong itu menjadi suami dari anak gadis mereka.

Benarkah Mahiga bermaksud menikahi Srikandi? Silahkan baca kelanjutannya pada bagian Akhir Kisah Sang Pendekar.

Cerbung Bag.4: Kisah Sang Pendekar

“ Pada bagian terdahulu diceritakan tentang kehadiran Mahiga dinegeri Sakura. Diperjalanan dia telah melabrak dua orang begundal yang sedang menganiaya seorang bapak tua. Seketika dia menolong dan mengusir begundal itu pergi. Siapakah bapak tua itu dan bagaimana kah sebenarnya keadaan dusun mereka. Mari kita baca lanjutannya”.

Mahiga cuma tersenyum, lalu memapah pak tua itu berdiri. Walaupun dengan lutut gemetar, pak tua itu segera membungkukkan badan di depan Mahiga sambil mengucapkan sesuatu.

Kembali Mahiga terlongong bodoh karena tidak memahami bahasa daerah yang digunakan oleh pak tua itu. Dengan terpaksa Mahiga menggamit bahu pak tua agar tidak lagi membungkukkan badan didepannya lagi. Dengan bahasa isyarat, Mahiga menjelaskan bahwa dia tidak paham dengan bahasa yang digunakan pak tua itu. Syukurlah pak tua itu memahaminya. Lalu dengan bahasa isyarat juga pak tua itu mengucapkan terima kasih karena telah membebaskan dia dari perampok tadi.

Pak tua itu pun mengenalkan namanya yakni Himasato dan putrinya bernama Mayumi. Dengan baik Himasato dan putri nya menerima Mahiga sebagai tamu dan diperlakukan dengan istimewa. Sesekali Mahiga mencuri pandang ke wajah mayumi yang putih manis khas putri jepon itu ddalam hatinya berkata, pantas saja diincar oleh perampok karena memang cantik dan menggiurkan mata.

Namun sebagai seorang pendekar buru – buru dia kembali bercakap – cakap dengan himasato dengan menggunakan bahasa isyarat. Mahiga sedikit banyak mengetahui bahwa diperkampungan itu sekarang tidak aman lagi semenjak seorang datuk dunia hitam mendirikan benteng tak jauh dari perkampungan warga. Datuk itu menamakan dirinya Ksatria lembah siluman. Dia mempunyai kaki tangan yang cara kerjanya sangat kejam. Sedikit sedikit main pukul sehingga hampir semua warga didaerah itu sudah merasakan pukulan dan terjangan mereka. Begitulah, banyak pula anak gadis yang diculik dan harta penduduk juga banyak yang dirampas.

Penduduk sudah ada yang melaporkan kejahatan itu ke pihak berwajib, namun karena lokasi perkampungan yang jauh dari kota, lambat lah berita itu sampai dan diperhatikan oleh pejabat disana.

Walaupun tujuan Mahiga ke negeri Jepon itu bukan karena hendak memusuhi dedengkot bandit itu, akan tetapi setelah mendengar cerita dari Himasato dan sudah melihat sendiri kebrutalan begundal perampok itu, Mahiga lalu menyanggupi akan memusnahkan perampok itu. Himasato dan mayumi sangat gembira dengan tekat tamunya lalu sambil minum arak himasato membeberkan lokasi benteng bandit itu.

Malamnya, tak mudah bagi Mahiga untuk menggempur benteng bandit itu sendirian. Karena sudah mendapat penjelasan dari himasato tentang situasi didalam benteng dan juga mendapat keterangan yang jelas dimana kamar tidur si bandit, akhirnya Mahiga memutuskan untuk segera saja menjumpai pemilik benteng dan menggempurnya sekalian. Dengan ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat tinggi, Mahiga melesat seperti bayangan hantu melompati benteng dan menyelinap diantara bangunan – bangunan yang terjaga oleh beberapa kaki tangan si bandit.

Telinganya yang tajam mendengar percakapan dari para centeng yang berjaga, namun karena tidak mengetahui artinya apa, dia kemudian tak menghiraukan lagi. Lalu kembali tubuhnya berkelebat menuju bangunan besar ditengah benteng. Kebetulan didepan rumah besar itu berdiri sebuah pohon besar sehingga memudahkan dirinya menyelinap diantara kerimbunan pohon itu untuk mengintai.

Terlihat beberapa penjaga berjalan hilir mudik disekitar rumah besar itu. Kalau ditilik dari penampilan para penjaga, mereka sudah dibekali oleh ilmu silat yang cukup kuat apalagi dipunggung mereka itu terdapat pedang pendek yang biasa disebut katana di negeri ini dan dia harus berhati – hati. Mahiga cukup sabar menunggu kelengahan pihak lawan sebelum memasuki rumah besar itu. Apalagi pihak lawan sama sekali tidak pernah menyadari benteng mereka telah dimasuki penyusup yang lihay sehingga pengamanan tidak begitu ketat banyak dari mereka itu asyik bermain kartu dan minum arak. Mahiga masih sabar mendekam diatas pohon sambil terus memikirkan cara terbaik untuk masuk kerumah besar tersebut. 

Tidak berapa lama kemudian sebuah senyum lega tersungging dibibirnya. Begitu kentongan ketiga berbunyi, Mahiga mengerahkan segenap ilmu meringankan tubuhnya untuk melesat ke rumah gembong bandit itu. Sewaktu tubuhnya berkelebat tadi beberapa centeng seperti melihat ada bayangan yang lewat, namun karena saking cepatnya tubuh Mahiga bergerak akhirnya para centeng merasa bahwa mereka semua sudah salah lihat.

Karena ilmu meringankan tubuhnya sudah tinggi sekali, Mahiga sekarang sudah berada didalam rumah sigembong rampok. Dia masih mendekam diam tak bergerak, nafasnya pun sangat halus dan seandainya datuk penghuni rumah ini mempunyai tenaga dalam tinggipun tak juga mampu mendeteksi adanya penyusup yang masuk.

Setelah merasakan bahwa keadaan memungkinkan untuk bergerak, Mahiga kembali mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya untuk melesat kearah kamar. Samar – samar dia mendengar suara lelaki sedang berbicara didalam, dan juga ada suara wanita yang merintih rintih. Sudah tentu mereka inilah gadis muda yang diculik oleh gerombolan benteng ini. Kalau menuruti rasa marah, mungkin Mahiga sudah mendobrak pintu kamar itu sejak tadi.

Namun Mahiga tidak ingin membuat rencananya kacau, sehingga dia bergerak dengan perhitungan yang matang. Dengan beringsut tanpa menimbulkan suara, perlahan lahan tubuhnya melesat keloteng dan dari situ dia membuat lobang kecil untuk mengintai kedalam kamar.

Mahiga sejenak memerah mukanya karena menyaksikan perempuan didalam kamar yang tanpa pakaian. Ada empat wanita muda sedang berdiri dan keadaan mereka sama sekali tanpa pakaian. Sementara itu mata Mahiga kembali menjelajahi isi kamar dan sesaat kemudian dia melihat seorang lelaki tinggi besar sedang berbicara dengan tangannya sendiri. Lelaki itu berambut dikuncir, alisnya tebal dan matanya yang sipit itu membayangkan kekejaman dan kelicikan. Inilah sosok yang berjuluk Ksatria Lembah Siluman itu. Namun Mahiga heran dengan perbuatan sigembong rampok.

Kenapa dia bicara dengan tangannya sendiri? Padahal wanita didepannya itu bukanlah orang yang bisu. Selagi masih terlongong, dilihatnya tangan si gembong rampok itu meletakkan sebuah benda dari tangannya tadi di meja. Mahiga dengan penasaran menajamkan matanya memperhatikan benda yang dimeja. Hanya sekepalan tangan, agak petak dan berwarna hitam. Hmm.... apakah itu adalah senjata mustika si gembong ini? Mahiga masih terus bertanya tanya dalam hati.

Penantian Mahiga akhirnya berbuah manis. Terdengar suara menguap dari mulut lelaki tinggi besar itu. Tangannya melambai pada keempat wanita muda itu supaya naik keranjang. Dengan serempak disertai rasa takut wanita wanita itu segera menghambur kedalam pelukan gembong rampok yang berjuluk ksatria lembah siluman. Selanjutnya terpaksa Mahiga mengalihkan pandangannya dari dalam kamar karena jengah dan muak melihat perbuatan yang mereka lakukan.

Dengan beringsut menjauh, dia kembali turun dan sekarang sudah berada didepan pintu kamar. Telinganya mendengar kentongan keempat telah berbunyi, dan dia merasa itulah waktu yang tepat untuk beraksi. Lalu....
“ Braaaakkkk...!!!” Sekali pukul pintu kamar roboh. Sebelum para wanita sempat menjerit, Mahiga menyambitkan batu kerikil yang sudah dipersiapkan sebagai senjata rahasia untuk menotok diam urat tidur mereka. Serentak empat butir kerikil itu meluncur pesat menuju sasaran sehingga sebelum sempat bersuara mereka sudah roboh tertidur.

Ksatria Lembah Siluman mimpipun tidak menyangka bahwa ada musuh yang berhasil masuk kesarangnya tanpa diketahui oleh penjaga. Bergegas dia mengenakan celana dan membentak keras. Tapi karena Mahiga tidak mengetahui apa maksud kata – kata si bandit itu, dia hanya menggerakkan jarinya keleher sendiri seolah berkata “ Kau harus mati”.

Karuan saja gembong bandit itu naik darah. Dengan sebat dia mengambil senjatanya yang berbentuk samurai lalu secepat kilat menerjang ketubuh Mahiga. Kaget betul Mahiga melihat kecepatan musuh yang sudah mengurungnya dengan sabetan, tusukan dan tebasan samurai. Seketika Mahiga merasakan hawa dingin mengurungnya. Sambil menggertakkan gigi Mahiga mengerahkan tenaga panas dalam tubuhnya agar hawa pedang yang membekukan itu sirap.

Pertarungan sengitpun terjadi didalam kamar yang luas dan mewah itu. Karena dinding kamar yang tebal dan serba tertutup maka suara hingar bingar akibat pertempuran didalam tidak begitu jelas didengar oleh para centeng yang sudah setengah teler kebanyakan minum arak.

Mahiga merasakan bahwa pihak lawan sangatlah tangguh dan ilmu pedang nya pun sedikit aneh. Mahiga belum berkesempatan untuk mencabut pedang naga yang tersimpan dibalik punggung pakaiannya karena masih dikurung terus oleh pedang samurai lawan.

Untunglah ilmu meringankan tubuhnya kembali menolong setiap geraknya dalam menghadapi serbuan pedang yang seperti topan prahara itu. Dalam sepuluh jurus dia terkurung oleh samurai lawan tanpa mampu membalas sehingga keringat dingin sempat pula keluar dari kulitnya. Ketika pedang lawan kembali menebas kearah pinggangnya, Mahiga lalu membuat gerakan melenting sambil berputar kemudian sebelah tangannya melepaskan pukulan “dewa murka menerpa karang” yang ampuh itu ketubuh lawan.

Ksatria Lembah Siluman berteriak kaget lalu buru buru melompat kesamping. Setelah melihat pukulan dahsyat tadi mau tidak mau terpaksa juga si bandit itu membatalkan serangan pedangnya yang hampir menyentuh tubuh lawan. Mahiga tidak menyia - nyiakan kesempatan tersebut, segera tangannya mencabut pedang, berbarengan dengan tercabutnya pedang secercah cahaya menyilaukan berwarna merah membayang dibadan pedang sehingga nampak angker.

Agak terkesiap juga si bandit melihat pedang yang tergenggam ditangan Mahiga. Dalam hatinya mengakui bahwa pedang lawan adalah pedang mustika yang kuat pengaruhnya. Namun dia buru – buru memantapkan hatinya kembali, bahwa pedang samurainya lah yang terbaik. Kemudian si Bandit itu kembali bersiap untuk menyerang, pedang samurai sudah tergetar karena aliran tenaga dalam. Namun Mahiga tidak mau membuang waktu lagi, dia langsung menyerang dengan jurus dari kitab pedang dewa sehingga gembong rampok itu kelabakan menghindar kesana kemari. Baginya jurus yang dikeluarkan oleh lawan sangat aneh dan tidak bisa diikuti kembangannya sehingga beberapa gebrakan tadi dia sudah tersudut.

Mahiga bukan tidak mengetahui kesukaran musuh, itulah yang diharapkannya apabila fikiran musuh sudah kalut dan panik akan mudahlah baginya untuk merobohkan. Dengan penuh semangat Mahiga terus menyerang lawannya dengan kombinasi ilmu pedang dewa, pedang naga menggaung laksana badai dan lambat laun ksatria lembah siluman terdesak karena sudah merasa tidak sanggup lagi, dia kemudian mengerahkan tenaga terakhir bermaksud untuk mengadu nyawa dengan lawan. Dengan teriakan dahsyat gembong iblis menerjang dengan kalap kearah Mahiga, Luar biasa sekali hawa dingin yang menyertai amukan pedang tersebut.

Walaupun sesaat Mahiga sempat tergontai karena dahsyatnya angin serangan lawan, tapi dia sudah jelas tidak mau mengadu nyawa dengan musuh, dengan menggunakan jurus “ dewa pedang naik kelangit “ Mahiga melontarkan tubuhnya ke atas lalu dilanjutkan dengan gerakan manis dari jurus “ dewa pedang menikam gunung “ pedang yang tergenggam ditangannya itu menukik tajam dengan kecepatan tinggi sehingga tidak mampu dielakkan lagi oleh gembong bandit.
“ Cleeppp...”
“ Akhh...”

Dengan tepat ujung pedang menghujam bahu kiri si gembong rampok itu langsung menyusup kearah jantung. Seketika nyawa ksatria lembah siluman itu tercabut dengan sukses.

Mahiga bernafas lega, bukanlah pertarungan yang mudah untuk mengalahkan gembong bandit tanah jepon ini. Setelah mengembalikan kebugaran tubuhnya, Mahiga lalu menatap benda yang berada dimeja. Walaupun dipembaringan terdapat empat wanita muda yang telanjang dan masih tertotok akan tetapi matanya tidak berani menoleh ke atas pembaringan.

Dengan langkah mantap dia berjalan menuju meja dan dengan hati – hati jarinya menggenggam barang tersebut, tertulis “nokia” di situ. Tapi mana dia mengerti semua tulisan itu. Lalu setelah dirasa tidak berbahaya, barang itu kemudian dimasukkan kesaku pakaiannya untuk menyelediki rahasia apa yang tersembunyi dalam benda aneh itu. Tak lama kemudian Mahiga pun berkelebat lenyap dari bangunan utama komplotan rampok yang dikepalai oleh ksatria lembah siluman.

Setelah melaporkan pada himasato tentang terbunuhnya dedengkot rampok itu, Mahiga kemudian berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya menuju lereng gunung fuji dimana sudah menanti seorang jago pedang tanah jepon yang sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan.

Berita kematian gembong rampok yang sudah meresahkan itu disambut bahagia oleh warga yang selama ini menjadi sasaran keganasan komplotan itu. Kebetulan sore itu pasukan dari pemerintah sampai di perkampungan himasato, setelah berkoordinasi pasukan kerajaan itu dibantu oleh rakyat berbondong – bondong menyerbu ke benteng yang sudah ditinggal mati ketuanya.

Para centeng dan jagoan benteng pada mulanya bertempur mati-matian namun karena tidak lama kemudian terdengar teriakan dari kawan mereka yang mengatakan ketua sudah tewas, semangat tempur merekapun lenyap. Dengan susah payah mereka mencari jalan untuk melarikan diri, ada yang lolos dan banyak juga yang tertangkap. Benteng tersebut akhirnya dihancurkan oleh rakyat. Harta benda yang ada didalamnya dibagi – bagikan oleh Himasato secara adil pada rakyatnya.

Akhirnya , kehidupan masyarakat kembali normal dan mereka sangat berterima kasih pada seorang pemuda asing yang telah membunuh mati pemimpin rampok itu sehingga dapatlah mereka membasmi keberadaan benteng itu. Kedatangan Mahiga ke negeri jepon itu pun membawa berkah karena orang tua aneh penghuni lereng gunung fuji itu menghadiahkan sebuah jurus ilmu pedang sakti khas negeri sakura yang bernama “ jurus pedang matahari”. Karena hawa pedang naga sama pembawaannya dengan sifat pedang matahari itu, mudahlah baginya untuk menekuni hingga selesai.

Itulah pengalamannya dinegeri sakura, Mahiga kembali menghela nafas, hatinya resah kenapa barang yang ditangannya kembali berbunyi. Pertanda apakah gerangan yang akan terjadi, demikianlah yang berkecamuk dalam fikirannya. Ah sudahlah, fikirnya. Daripada pusing kepala lebih baik dia bernostalgia kembali dimasa mudanya yang penuh dengan gairah dimana beberapa hari setelah perjumpaannya dengan Srikandi telah membuat hatinya seringkali dilanda rindu pada senyum tawa srikandi yang merdu.

Malam itu bulan purnama, dimalam yang gelap itu kehadiran bulan purnama yang terang akan membuat suasana begitu indah. Mahiga menatap bulan itu dari sebuah pondok kecil ditepi hutan. Setelah mengantar gadis itu pulang kerumah orangtua, Mahiga sengaja tidak berkelana jauh kedaerah lain. Kehadiran gadis itu membuat hatinya bahagia sehingga dia tidak tega pergi jauh seakan dia khawatir sewaktu – waktu para perampok menyerang desa itu dan menculik gadis impiannya.

Walaupun orang tua sigadis telah menawarkan sebuah kamar untuk ditempati untuk sementara waktu sebagai tanda terimakasih mereka karena telah menyelamatkan anak gadisnya, akan tetapi demi menjaga nama baik tuan rumah dimata masyarakat, Mahiga menolaknya dengan halus dan tetap akan melakukan perjalanan kembali menjalankan tugasnya sebagai pendekar.

Dengan berat hati dan disertai tangisan sedih, Srikandi melepas kepergian pemuda itu dengan hati pilu. Dia sudah tertarik pada pemuda karena sikap dan sifatnya yang baik dan merendah. Begitupun orang tua si gadis yang merasa sayang melepas kepergian pemuda itu, karena mereka suka dan bermaksud menjadikan jodoh buat anaknya. Seorang pemuda yang tampan, baik budi dan berilmu silat tinggi sehingga akan mampu menjaga keamanan keluarganya dan juga kampung yang dipimpinnya.

Alangkah bangganya dia apabila mantunya menjadi pahlawan dikampung itu. Itulah sebabnya ketika Mahiga mengatakan akan melanjutkan pengembaraannya, orang tua si gadis cepat – cepat menahannya dan menawarkan untuk menginap beberapa hari sehingga ada waktu bagi putrinya untuk mengenal lebih dekat diri pendekar muda itu. Namun Mahiga menolaknya sehingga walaupun berat, terpaksa juga Ki Wiguno dan istrinya melepas kepergian pemuda itu.

Mahiga masih memandang indahnya rembulan, bayangan srikandi menari nari dipelupuk matanya. Sebuah wajah yang lembut, putih dan jelita itu seakan akan memanggilnya untuk segera berjumpa dan berdua menikmati malam. Berkali – kali Mahiga menepiskan keinginan untuk menjumpai srikandi karena dia merasa tidak enak hati terhadap orangtua sigadis yang sangat baik dan menghormatinya. Akan tetapi, semakin dia menepis keinginan itu semakin kuat pula rindunya memanggil untuk menjumpai sigadis.

Bagaimanakah kisah selanjutnya simak terus lanjutannya di Kisah Sang Pendekar bag ke 5.

Cerbung Bag.3 : Kisah Sang Pendekar

Pada bagian ke dua telah diceritakan bahwa Mahiga berhasil mengutungi senjata Trisula si brewok. Keduanya sama – sama terluka dalam. Setelah itu pertempuran akan terus berjalan. Karena si Trisula Iblis sudah tidak bisa lagi menggunakan senjatanya, maka Mahiga kemudian menyarungkan kembali pedangnya dan bersiap melayani lawan dengan tangan kosong.

Suasana hening sesaat, mereka berdiri berhadap - hadapan saling mengintai kelemahan masing masing. Sesaat kemudian disertai bentakan keras, si trisula iblis membuka serangan dengan jurus ‘ Telapak iblis mengacau samudra’. Serangan ini bukan kepalang dahsyatnya. Hawa pengap yang beracun itu seakan membungkus pergerakan Mahiga. Dengan sifatnya yang mengaduk aduk itulah Mahiga merasakan serangan tersebut sangatlah berbahaya karena uap hitam yang keluar dari telapak tangan si brewok membuat matanya tidak jelas melihat posisi lawan berada dimana.

Untunglah saat itu dia tidak panik lalu dengan tenang Mahiga melentikkan tubuhnya keatas sambil mengeluarkan jurus keempat dari 8 ilmu pedang dewa yakni “ dewa pedang mendera iblis ”. Walaupun ditangannya tidak memegang pedang namun sepasang tangannya ini pun sudah seperti pedang geraknya.

Trisula Iblis merasakan angin serangan yang panas mengarah ke kepalanya, lalu dengan jurus “ harimau menerjang benteng” tubuh sibrewok meluncur kedepan bergulingan menjauhi serangan lawan lalu melepaskan sebuah pukulan ke lambung lawan namun Mahiga segera melepaskan pukulan “ dewa badai menghantam karang” dan memapaki pukulan si trisula iblis sehingga membuat keduanya berseru kaget. Si trisula iblis terhuyung – huyung lalu terduduk sementara Mahiga pun tergontai – gontai sambil berusaha untuk berdiri tegak. Si trisula iblis secepatnya bangkit dan bersiaga.

Melihat itu Mahiga mendengus dingin kemudian memperhebat gerak tangannya tanpa memberi kesempatan pada sibrewok untuk menyerang. Telapak tangannya laksana kesiuran mata pedang yang terus mengintai kelemahan lawan, si brewok merasakan sebuah kekuatan yang tidak nampak seakan mengunci setiap gerakannya, maka sulitlah dia bergerak kesana kemari. Sungguh patut dipuji kegagahan si trisula iblis itu, walaupun sudah terjepit keadaannya namun dengan semangat menyala nyala dia masih sanggup meladeni serangan lawan. Sudah beberapa kali kepalanya hampir menjadi sasaran telapak tangan lawan yang dipenuhi oleh tenaga dalam itu.

Dengan mati-matian pula dia menggerakkan tangan menangkis dan adu tenaga walaupun tangannya seperti patah – patah rasanya karena sering beradu pukulan dengan sipemuda namun karena tidak punya pilihan lain mau tidak mau itulah jalan satu – satunya.

Matahari sudah condong ke barat, akan tetapi ditepi sungai Melang itu dua lelaki masih saja saling adu kesaktian. Tanpa mereka sadari hampir tiga ratus jurus sudah digunakan dalam bertempur. Sungguh duel yang luar biasa dimana tubuh mereka hanya nampak berupa bayangan- bayangan yang bergerak kesana kemari laksana kilat menyambar. Batu batu yang ada disekitar sudah banyak yang hancur akibat pukulan mereka yang meleset dan masih untung tubuh si gadis yang sudah ditotok lemas oleh si trisula iblis itu berada agak jauh dari arena pertempuran sehingga tidak terjangkau oleh tenaga pukulan yang terkadang meleset.

Perlahan namun pasti terlihat Mahiga mulai unggul menguasai lawan, si trisula iblis alias si brewok sudah kepayahan dalam bergerak. Sudah terlalu banyak tenaga murninya terkuras akibat menyambut serangan lawan sehingga berpengaruh pada kecepatan geraknya. Mahiga pun sebenarnya tidak jauh berbeda dari si brewok, dia juga sudah lelah untunglah dia masih muda dan tenaga dalamnya masih murni dan tidak mengganggu kerja otaknya dalam berfikir.

Setelah melihat keadaan lawan. Mahiga kemudian melesatkan tubuhnya di depan si brewok yang sudah bersiap untuk memampaki serangan itu. Dengan gerakan manis Mahiga menggeoskan tubuhnya kesamping dan melancarkan jurus “ dewa murka menjepit gunung “. Dengan kecepatan penuh kedua telapak tangan Mahiga bersilangan membentuk gunting raksasa seolah akan menjepit leher lawan, melihat itu sibrewok berseru tegang lalu menarik kepalanya kebelakang akan tetapi sebuah gerak susulan dari kaki Mahiga tidak dapat dihindari lalu menghantam dada si brewok dengan telak hingga muntah darah dan dengan teriakan ngeri tubuh si brewok terpental kedalam sungai.
“ Aaaaaaaa.....!!”
“Byuurrrr.....!!!” terdengar suara air membuncah ketika tubuh si trisula iblis jatuh kesungai yang dalam itu. Tidak terdengar apapun saat itu.

Mahiga menghela nafas lega, sungguh pertarungan yang hebat dan baru kali ini dia mendapatkan lawan tanding yang setimpal. Sejenak dia memandang ke tengah sungai akan tetapi sosok si Trisula Iblis sudah lenyap tak berbekas. Dengan tubuh yang sangat lelah Mahiga terduduk diatas rumput dimana beberapa waktu lalu menjadi arena baku hantam. Sesaat kemudian dia teringat pada keadaan gadis tadi. Dengan langkah lebar dia menuju ketempat gadis itu tergeletak. Benar saja, sigadis masih tergeletak tak mampu bergerak hanya bola matanya saja yang bergerak ketakutan melihat kehadirannya.

Sejenak Mahiga terpesona melihat kecantikan sigadis malang itu namun buru – buru dia menundukkan muka jengah karena sudah membayangkan yang bukan - bukan. Saat ini sigadis  perlu pertongannya.
“ Maaf nona, saya akan membebaskanmu...”. dengan wajah masih tertunduk Mahiga berjongkok dihadapan gadis itu dan dengan pengerahan tenaga dalam, ujung jarinya menekan urat besar di pangkal leher sigadis. Setelah melakukan itu Mahiga beringsut sedikit kebelakang membiarkan sigadis memulihkan kondisi tubuhnya. Tak lama kemudian sigadis merasakan dia sudah bisa menggerakkan kembali anggota tubuhnya dan dengan penuh rasa terima kasih sigadis menghampiri Mahiga yang duduk bersila.

“ Tuan, terima kasih atas pertolonganmu, kalau tiada tuan yang menolong entah bagaimana nasibku sekarang..” sambil berlutut gadis itu berkata dengan terisak isak dan bercucuran air mata.
Mahiga merasa tidak enak disembahi oleh sigadis, dengan lembut dia menggamit bahu sigadis menyuruhnya duduk secara wajar.
“ duduklah nona, menolong orang lain adalah perbuatan para pendekar, dan sudah sewajarnya saya berusaha membebaskanmu dari iblis itu...” Ujar Mahiga.

Si gadis masih terisak – isak penuh tanda syukur sudah terlepas dari bahaya. Sesaat mereka tidak bicara lagi. Ketika Mahiga mengangkat mukanya kebetulan pada saat itu sigadis juga sedang memandangnya dengan kagum dan haru. Mata mereka bertatapan, walaupun sebentar akan tetapi membuat kedua belah pipi mereka bersemu merah karena malu.
“Nona, ...” belum selesai Mahiga berkata, sigadis sudah memotong.
“ Tuan, namaku srikandi, ayah bundaku memanggilku dengan sri...” ucap sigadis sambil tertunduk malu. Mahiga menganggukkan kepalanya, hatinya tertarik pada kepolosan gadis itu.
Dia memberanikan diri menatap wajah srikandi
“ Nona, siapakah orangtuamu dan dimana rumahmu, akan kuantar kau pulang sekarang...”. tanya Mahiga. Sebenarnya Mahiga tidak ingin menanyakan hal itu untuk sementara ini karena dia sudah tertarik pada sigadis, namun lantaran mereka masih diam tak bicara, akhirnya kata tersebut terlontar juga dari bibirnya.

Srikandi sebenarnya gadis yang periang dan berotak cerdas. Beberapa saat yang lalu dia sudah menilai pemuda penolongnya itu berhati baik dan lugu. Dari tutur katanya saja dia sudah merasakan bahwa sipemuda didepannya itu berasal dari lingkungan baik – baik sehingga dia tidak khawatir berdua – duaan ditengah hutan bersama tuan enolongnya itu.
“ Eh tuan, apakah engkau tidak memberitahukan namamu padaku, padahal engkau adalah tuan penolongku”. Seru srikandi dengan bibir cemberut mukanya masih merona kemerahan.
Mahiga yang masih hijau dalam pergaulan antara lelaki dan wanita itu, sedikit tergagap. Lalu sambil menyunggingkan sebuah senyum dia menjawab
“ Namaku yang buruk ini adalah Mahiga, aku adalah seorang perantau tak mempunyai tempat tinggal yang tetap ”.
“ kenapa tuan mengatakan nama tuan itu buruk, padahal setiap orang tua memberikan nama pada anaknya mempunyai arti dan makna”. Sergah Srikandi. Dia kagum pada lelaki muda yang tampan itu, tingkah lakunya baik dan selalu merendah.
“ Maaf nona, jangan panggil aku dengan tuan, aku hanya pemuda miskin dan bodoh. Tidak pantas rasanya dipanggil tuan”. Mahiga sedikit memprotes. Srikandi tertawa dengan lucu.

Mahiga sesaat terpesona melihat mulut mungil itu tertawa.
“ Tuan lucu juga ternyata, engkau melarangku memanggilmu dengan tuan, tapi engkau masih memanggilku dengan nona, bukankah itu sangat menggelikan”. Jawab srikandi sambil tertawa. Mendengar penuturan sigadis, Mahiga akhirnya ikut tertawa. Setelah puas menertawakan ketololan mereka itu, srikandi kembali berkata
“ bagaimana kalau kupanggil dirimu dengan kanda Mahiga saja, bukankah sudah pantas aku memanggilmu demikian sebab menurut tafsiranku umurmu lebih tua dariku, bagaimana?”
Merah muka Mahiga ketika teringat akan kata “kanda” seperti yang disebutkan sigadis. Akan tetapi sesaat kemudian dia menganggukkan kepala.
“ Boleh saja Adik sri kau memanggilku demikian...” jawab Mahiga. Sementara itu Srikandi merasa hatinya berbunga – bunga tatkala mendengar pemuda tampan itu menyebutnya dengan Adik sri, mesra nian. Tak pelak wajahnya kembali merona.

Cinta terkadang bisa tumbuh kapan saja dan dimana saja dan cinta juga tidak membedakan siapa. Rasa itu bersemi tak kenal waktu. Maka jangan heran apabila cinta sudah bersemi segala sesuatunya akan nampak indah.
Begitulah yang dirasakan oleh kedua insan yang dipertemukan oleh nasib itu. Pada awalnya mereka tak saling mengenal hingga ketika saling memandang dan bertutur kata perlahan – lahan suasana yang kaku itu mencair dengan sendirinya.

Begitulah, Sipedang Naga alias Mahiga masih saja larut dalam nostalgia masa silamnya, sehingga ketika murid – muridnya sudah selesai latihan dan kembali ke padepokan masing – masing, dia tidak mengetahuinya walaupun sepasang matanya menatap kedepan kearah lapangan tempat para murid berlatih. Bahkan tadi salah seorang murid kepala menghampirinya dan mengucapkan salam, kuping yang biasanya tajam itu sama sekali tidak bereaksi sehingga si murid kepala itu seperti bertegur sapa dengan batu.

Dengan penuh hormat akhirnya murid kepala itu mengundurkan diri dan sedikit ngedumel dalam hatinya “ Tumben pak ketua pagi ini tuli, huh...”. Lalu simurid kepala itu berlalu dengan cepat seakan takut bahwa isi hatinya terdengar oleh pendekar sakti gurunya.

Matahari sudah lama beranjak meninggi, suasana pagi yang sejuk telah terganti oleh hangatnya matahari siang. Dari dalam rumah seorang anak kecil berumur delapan tahun berlari bergegas menuju ketempat Mahiga duduk, ditangannya tergenggam sesuatu yang terus saja berbunyi.
“ Ayaaahh... barang ini berbunyi lagi nih..!!” teriak si Anak sambil mengacungkan sesuatu sebesar kepalan tangan.
Teriakan anak kecil yang melengking itu sontak membuat Mahiga yang sedang larut dalam lamunan itu terkejut besar.
“ Maammaaaakkkk...!!!” Tanpa sadar dia latah berteriak. Tubuhnya terlompat keatas akibat luapan tenaga dalam yang otomatis keluar dengan sendirinya hingga diluar sadarnya kepalanya kejedut loteng.
“ Duukk...!!!”
“ Waddaaawww....!!!”
Kembali Mahiga menjerit kesakitan ketika dirasakan kepalanya sakit. karena benturan dikepala itu mata Mahiga sampai berkunang – kunang. Tatkala kakinya mendarat ke lantai pun tidak sempurna sehingga gelas kopi itupun tersenggol dan terpelanting menimbulkan bunyi yang gaduh.

Akibat suara tersebut beberapa murid kepala berlarian menuju rumah kediaman guru mereka dengan perasaan cemas dan bertanya tanya. Akan tetapi tatkala mereka tiba di depan anak tangga rumah, mereka heran menyaksikan putra tunggal ketuanya sedang tertawa terpingkal pingkal sementara dilantai mereka melihat ketua mereka itu duduk menjeplok sambil mengelus elus kepalanya yang sedikit benjol dengan muka meringis. Sungguh lucu wajah dari Mahiga saat itu.
Beragam ekspresi wajah para murid yang hadir disitu, ada yang menutup mulutnya menahan geli, ada yang marah pada sianak kecil itu karena menertawakan orangtuanya dan sebagian lainnya masih bertanya tanya apa gerangan yang sudah terjadi.

Melihat para muridnya sudah berkumpul didepan rumahnya, Mahiga cepat berdiri dengan muka dipaksakan berwibawa,
“ Ada apa sehingga kalian berkumpul disini tanpa ku panggil...??” dengan keren Mahiga bertanya. Para murid segera menundukkan muka. Salah seorang murid kepala bernama Gunarda maju kedepan dengan sikap hormat berkata.
“ Ampunkan murid, Guru. Murid tadi mendengar suara ribut – ribut dikediaman guru sehingga kami mengkhawatirkan keselamatan guru...lalu kami berlarian kesini untuk memastikan”. Jawab Gunarda dengan suara lantang dan diaminkan oleh murid yang lain.
Mahiga mengelus – elus jenggotnya lalu berkata.
“ Gunarda, Sekarang engkau sudah melihat bahwa disini tidak ada musuh menyerang. Entah bagaimana pendapatmu..?”
Gunarda tertunduk sesaat, lalu dengan lantang dia menjawab.
“ Ampuni murid yang salah menilai keadaan. Untuk itu murid siap dihukum....!!”
Mahiga lalu memandangi murid tersebut, dalam hatinya gembira melihat ketaataan Gunarda yang siap menjalani hukuman akibat kesalahannya. Dia kagum.
“ Sudahlah, kalian tidak bersalah. Kembalilah kalian kedalam....”. Ucap Mahiga.
“ Baik Guru, murid mentaati perintah guru...” Jawab Gunarda.Kemudian dia mengajak para murid lainnya segera meninggalkan pekarangan rumah guru mereka.

Setelah tiada lagi murid tersisa, Mahiga lalu menghampiri putranya yang masih tersenyum geli menyaksikan kelatahan ayahnya tadi. sesekali masih saja tertawa.
“ Sanjaya, ada apakah sehingga kau datang mengagetkan ayahmu?”. Tanya Mahiga sambil menatap wajah anaknya.
“ Ayah, tadi sewaktu aku sedang menulis, barang ini berbunyi lagi, makanya anak buru – buru menemuimu dan menyerahkan ini ayah”. Jawab Sanjaya dengan bersungguh – sungguh. Tangan kecil itu mengangsurkan sebuah benda berwarna hitam.
Mahiga lalu mengambil barang itu sejenak matanya menatap pada beberapa huruf dan angka yang terpampang didalam benda itu.
“ Nomor tak dikenal memanggil” gumamnya perlahan. Sudah ada lima kali kejadian ini terulang sejak kepulangannya dari negeri sakura dulu.
“ Maksud ayah ...??” Tanya Sanjaya. Dia juga heran mendengar ayahnya mengucapkan nomor tak dikenal memanggil. Tapi Mahiga buru buru mengilah.
“ sudahlah sekarang lanjutkan latihanmu, lain kali kalau memanggil ayah jangan berteriak”.
“ Baik ayah...” jawab Sanjaya. Walaupun dalam hatinya tidak puas karena pertanyaannya tidak dijawab sang ayah, Sanjaya berlalu kembali kekamarnya.

Mahiga menghela nafas dan menghempaskan tubuhnya dikursi. Tangannya masih memegang benda hitam itu dan benaknya bertanya tanya benda yang ada ditangannya ini termasuk pusaka yang bagaimana. Matanya menelusuri permukaan benda itu, dia melihat ada tombol – tombol kecil dan bertuliskan angka dan huruf – huruf kemudian ada semacam layar yang bertuliskan telkomsel didalamnya dan beberapa tanda – tanda lain yang tidak dimengertinya.

Mahiga ingat sekali kejadian dimana barang “pusaka” ini diketemukan. Waktu itu dia sedang melakukan perjalanan menuju ke timur. Karena perjalanan itu menggunakan kuda pilihan sehingga negeri ditimur itu dapat ditempuh dalam waktu dua purnama. Mahiga baru kali ini menapakkan kakinya dinegeri ini dimana penduduknya berkulit putih dan bermata sipit seperti mengantuk.
Negeri ini bernama jepon. Sebuah negeri yang dingin karena musim salju telah tiba. Mahiga tertegun melihat puncak gunung fuji yang tertutup lapisan salju. Sungguh mengagumkan. Setelah puas memandang, Mahiga menjalankan kudanya perlahan karena sudah memasuki perkampungan. Orang yang berlalu lalang disekitarnya memakai pakaian yang tebal dan bertopi bulu mungkin untuk menghangatkan tubuh disaat hujan salju.

Ada beberapa penduduk menatap pada Mahiga dengan pandangan heran karena merasa asing dalam hal berpakaian. Agak risih juga perasaan Mahiga waktu itu, dan karena tidak ingin dijadikan bahan pandangan mereka, lalu Mahiga menjalankan kudanya dengan sedikit lebih cepat dan berusaha untuk segera keluar dari perkampungan itu.

Disaat kudanya sudah berada diujung perkampungan, mendadak telinganya mendengar jeritan tertahan dari sebuah rumah. Lalu Mahiga menghentikan laju kudanya dan berusaha mempertajam pendengarannya. Taklama kemudian kembali telinganya mendengar suara bentakan dan suara barang yang pecah. Seketika jiwa pendekarnya menggeliat. Mahiga mengarahkan kudanya ke kiri dan menyusuri lorong itu menuju ke sumber suara.

Tidak lama kemudian Mahiga melihat dua orang lelaki kasar berambut gondrong sedang memukul seorang lelaki tua. Wajah pak tua itu sudah bonyok dan mengucurkan darah Sementara itu diruangan dalam terdengar jeritan perempuan. Tanpa basa basi lagi Mahiga segera berkelebat ke arah dua lelaki kasar yang sudah akan melancarkan lagi pukulan kedada pak tua. Mungkin pukulan itu akan segera menamatkan riwayat pak tua tersebut.
Kedua lelaki kasar itu tersentak kaget karena kedua kepalan tangan yang sudah diarahkan ketubuh korban tertahan diudara. Sekuat tenaga mereka berusah membetot tangan mereka itu akan tetapi sedikitpun tangan mereka tidak bisa digerakkan.

“ Perlahan dulu sobat, bapak itu sudah tidak kuat lagi menerima pukulan kalian...” seru Mahiga, lalu dengan megerahkan sedikit tenaga dalamnya, kedua tubuh lelaki kasar itu terpelanting.
Sambil memaki panjang pendek, kedua lelaki kasar itu menyumpah dalam bahasa mereka sehingga membuat  Mahiga melongong bodoh. Sungguh dia tidak mengerti.
“ Hai sobat, kalian bicara apakah?”. Tanya Mahiga kepada dua lelaki kasar itu. Namun  kedua lelaki kasar tersebut tetap menjawabnya dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Mahiga.

Hanya Mahiga bisa menilai dari bahasa tubuh mereka, bahwa mereka sedang marah padanya. Lalu Mahiga menolehkan pandangannya pada pak tua yang sudah terkapar tak berdaya di lantai. Segera Mahiga berjongkok dan memeriksa kondisi pak tua itu. Dia sedikit lega karena luka pak tua itu hanya luka luar saja.

Walaupun demikian Mahiga lalu mendudukkan tubuh pak tua itu dan tangannya kemudian menempel ke punggung. Sesaat dia mengalirkan hawa murninya kedalam tubuh pak tua agar kekuatannya segera kembali.

Disaat Mahiga sedang memberikan bantuan pada pak tua itu, kedua begundal gondrong tadi merasa punya kesempatan melakukan pembalasan karena tubuh Mahiga sedang membelakangi mereka. Dengan berendap – endap kedua lelaki kasar itu menerjang ke tubuh Mahiga.

Sayang sekali, yang mereka serang itu adalah tokoh kosen dunia persilatan sehingga belum sampai tangan dan kaki mereka singgah ke tubuh Mahiga, serentak angin yang dahsyat menghantam tubuh mereka sehingga kembali terpelanting..
“ Haaiiiiyaaaaaaa.....!!!!” Dua begundal itu berteriak kaget dan ngeri.
“ Braaakkk....!!!”
Tubuh merekapun menghantam pagar rumah yang terdiri dari kayu yang cukup kokoh itu sehingga hancur berantakan.
Sesaat dua begundal itu tidak mampu menggerakkan tubuh, hanya mulut mereka mengerang kesakitan disertai sumpah serapah pada Mahiga. Taklama kemudian dengan susah payah dua begundal itu melarikan diri dengan terbungkuk – bungkuk.

Setelah berada dinegeri sakura, Mahiga mendapatkan beberapa rintangan dan akhirnya bisa dilalui. Siapa sebenarnya kedua begundal yang telah dihajar oleh Mahiga dan siapa pula bapak tua itu? Mari kita lanjutkan pada bagian selanjutnya.