Pada bagian terdahulu kita telah
mengetahui bahwa Mahiga sangat mencintai Srikandi, dara yang telah
diselamatkannya dari cengkraman Si Trisula Iblis.
Tak lama berselang pesta
pernikahan pun digelar dengan meriah dikampung itu, Ki Wiguno sebagai kepala
kampung sudah tentu mengadakan pesta pernikahan anaknya itu dilengkapi oleh
banyak acara sehingga mampu menghibur tamu undangan yang terdiri dari kalangan
dunia persilatan dan beberapa kenalan
dari kotaraja sekaligus menghibur hati
rakyatnya.
Sepasang pengantin duduk dengan malu – malu di pelaminan yang telah
disediakan di dekat tamu undangan. Tak henti – hentinya para tamu mengungkapkan
kekaguman mereka terhadap sepasang mempelai. Sungguh pasangan yang serasi,
lelakinya tampan dengan tatapan matanya yang tajam melambangkan keperkasaan dan
kegagahan sementara mempelai wanitanya adalah seorang gadis yang cantik, ayu
dan molek sehingga sangat pantas mendampingi si mempelai pria yang gagah itu.
Semua bahagia dan larut dalam tawa dan senda gurau.
Semakin malam acara semakin
meriah, sepasang pengantin sudah mengundurkan diri kedalam untuk menikmati
cinta mereka dikamar pengantin. Para tamu
sebagian sudah ada yang pamit dan sebagian lagi masih betah menyaksikan aneka
tarian dan jamuan dari tuan rumah yang melayani mereka penuh persahabatan.
Gelak tawa tak putus putusnya menghiasi malam.
Sementara itu didalam kamar
pengantin, Mahiga dengan penuh cinta memeluk istrinya yang molek itu sambil
berkata
“ Adik Sri, syukurlah acaranya
berlangsung tenang dan damai. Aku sudah khawatir kalau kalau musuhku datang dan
membuat kekacauan disini...”
“ Tenangkan hatimu kanda...”
dengan lembut srikandi menenangkan hati suaminya, “ Kita telah sah sebagai
suami istri. Aku bersumpah sampai mati akan berbakti padamu...”
Mahiga sangat bersyukur mendengar
sumpah dari istrinya dan dia lalu mengecupi bibir yang indah itu kemudian
mereka pun larut dalam suasana yang romantis mereguk madu cinta yang
menggelora.
Mahiga menghempas nafas berat,
ketika menyadari bahwa kenangan tersebut sebenarnya membuat hatinya berduka
kembali. Kebersamaannya dengan wanita yang dicintainya tidak berlangsung lama.
Setelah empat tahun menikah, mereka dikaruniai seorang putra yang sehat
dan tampan bernama Sanjaya. Kala itu sang anak sudah berumur dua tahun, sedang
bermain – main disamping rumah bersama kakeknya. Sementara itu Mahiga sedang
pergi ke kota
raja untuk menjual hasil kebun mereka dengan ditemani dua orang pembantu.
Srikandi dan ibunya sedang menyiapkan makanan didapur.
Dari jauh terdengar derap langkah
kaki kuda mengarah kerumah mereka. Kedatangan empat penunggang kuda itu sangat
mengagetkan tuan rumah apalagi melihat tampang mereka yang sangar dan kasar.
Dalam hati Ki Wiguno sudah merasa curiga. Segera dia merangkul Sanjaya dan
menyuruhnya untuk masuk kedalam.
Sanjaya sangat patuh pada kakeknya lalu dengan
langkah lucu anak kecil itu berlarian masuk kedalam. Ki Wiguno berusaha meredam
kegelisahan hatinya. Sambil tersenyum dia merangkapkan tangan didada sebagai
tanda penghormatan sekaligus menyapa.
“ Ada apakah gerangan sehingga tuan – tuan yang
gagah perkasa menuju kegubukku yang buruk ini..?”
Mendengar ucapan dari Ki Wiguno
itu, seketika para pendatang itu tertawa terbahak bahak. Salah seorang dari
penunggang kuda itu, lalu turun dari kudanya dan berkata.
“ Apakah engkau ini mertua nya si
Pedang Naga?” bentak lelaki itu dengan kasar.
Terkesiap juga muka Ki Wiguno
tatkala mendengar julukan menantunya disebut oleh orang itu.
“ Sungguh saya orang tua tidak
mengerti akan pertanyaan saudara yang gagah ini, menantu saya hanya seorang
biasa..” Jawab Ki Wiguno masih berusaha untuk tenang.
Lelaki bercodet yang
masih diatas kuda mendengus keras. Dia berjuluk Si Cakar Setan, adalah orang
kedua dari enam gerombolan rampok.
“ Huh... jangan membohongi kami,
orang tua. Kami tidak akan membikin susah dirimu asalkan kau berterus terang
kalau engkau adalah mertuanya...”
Ki Wiguno merasakan betapa sukar
untuk membantah. Apalagi dia adalah kepala kampung yang jujur sehingga sudah
tentu kesulitan untuk memutar lidah. Tapi keadaan ini sungguh berbahaya apabila
kedatangan mereka bermaksud tidak baik pada menantunya.
“ Tuan, memang benarlah apa yang
tuan katakan itu, Saya tidak akan mendustakan apa yang saya ketahui, menantu
saya hanya petani dan saat ini sedang menjual hasil kebun kami di kota raja..” Ki wiguno
tetap mempertahankan jawabannya itu.
“ Hei orang tua, Kami adalah
empat Iblis Gunung Gombang, saat ini juga kami bisa mencabut nyawa anjingmu
itu. Bicaralah terus terang sebelum kesabaranku habis..!!” Bentak penunggang
kuda yang sedang memutar mutar goloknya. Orang ini berjuluk Si Golok Setan.
Walaupun Ki Wiguno tetap pada
jawabannya dan berusaha tenang, namun keringat sudah sebiji jagung menetes
dijidatnya. Siapa yang tidak takut pada gerombolan perampok kejam yang berjuluk
Iblis Hutan Gombang . Mimpipun dia tidak menyangka kalau hari ini akan
berhadapan dengan mereka.
Dengan menghela nafas Ki Wiguno memandang lelaki yang
berdiri didepannya.
“ Tuan, untuk apa saya berdusta.
Apa yang saya katakan tadi adalah kenyataan yang sesungguhnya. Kami adalah....”
Belum sempat Ki Wiguno menyelesaikan ucapannya, sekonyong konyong sebuah
tendangan sudah bersarang diperutnya.
“ Buukkk...!!”
“ Heekk...!!”
Ki wiguno terlempar kebelakang,
perutnya sakit seperti pecah. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Sambil
menahan sakit Ki Wiguno berusaha untuk duduk, akan tetapi dengan cepat tamparan
keras menghantam pipinya hingga bengap. Bibirnya pecah berdarah.
“ Kau pikir bisa menipu kami,
bangsat tua?!!” bentak lelaki yang memegang cambuk. Dia dikenal berjuluk Si
Cambuk Setan. Orang pertama dalam gerombolan.
Secepat kilat tubyhnya menghampiri Ki Wiguno yang masih terduduk kesakitan ditanah lalu tangannya mencakal leher
pakaian orang tua itu. Ki Wiguno sudah tersenggal – senggal nafasnya.
“ Kalian tunggu apalagi, segera
geledah rumah itu, kalau tidak bertemu dengan bangsat itu, bunuh saja
keluarganya..!!”. Perintah si Cambuk Setan pada kepada anak buahnya.
Serentak
dengan itu berlompatanlah mereka dari kuda dan segera melabrak kedalam rumah. Melihat itu
Ki Wiguno terkesiap.
Taklama kemudian terdengar suara benda – benda jatuh didalam
rumah disusul oleh teriakan ngeri anak bininya. Ki Wiguno pedih hatinya,
wajahnya pucat pias menahan keresahan.
“ Tuan, kenapa kalian berbuat
seburuk itu pada kami?” dengan suara terputus – putus ki wiguno berusaha untuk
mendapat tahu. Dengan sekali banting, tubuh Ki Wiguno terlentang kembali ditanah.
“ Hei orang tua, baiklah akan
kukatakan urusan kami terhadap menantumu yang sok pendekar itu. Kami akan
membalas dendam atas kematian dua orang saudara kami yang telah dibunuhnya
dulu. Sudah mengerti kau? “ Jawab si Cambuk Setan.
“ Tapi... tapi orang itu bukan
menantu saya, menantu saya sedang berdagang dikota raja...” Jelas Ki Wiguna
dengan susah payah. Si Cambuk Setan mendengus.
“ Walaupun dia tidak berada disini, maka
kalian satu rumah harus mati, hahahahaaa...”.
Ki Wiguno pucat pasi mendengar
ucapan perampok itu, pedih hatinya membayangkan istri, anak dan cucunya
dibantai oleh perampok ini.
“ Tapi,.. tapi kami tidak
bersalah apa – apa pada kalian, kenapa harus dibunuh..?” dengan ketakutan ki
wiguno bertanya kembali. Si Cambuk Setan kembali tertawa seram
“ Agar dia merasakan sakitnya
apabila keluarga sendiri dibunuh orang...” dengan dingin si cambuk setan
menjelaskan. Seketika kerongkongan Ki wiguno tercekat.
Tipis harapannya untuk
kabur menyelamatkan keluarganya. Apalagi sesaat kemudian terdengar jeritan
ngeri istrinya disambung dengan jeritan dari putrinya. Ah.. ternyata mereka
telah menjadi korban keganasan perampok jahanam ini, bisik hatinya dengan pilu.
Mengingat semua kekejian mereka itu, Ki Wiguno naik pitam, serentak dia bangkit
dan memukul wajah si Cambuk Setan dengan sekuat tenaga. Tapi semua serangan
tersebut hanya mendapat angin apalagi keadaan tubuhnya sudah tua dan tenaga
tidak ada lagi, dia hanya jadi permainan si cambuk setan.
Setelah puas
mempermainkan orang tua itu, dengan keji si Cambuk Setan menghantam kepala Ki
Wiguna hingga retak. Tanpa ampun tubuh orang tua itu rubuh ketanah sekalian
dengan terlepasnya nyawa dari raga.
Si cambuk Setan tertawa puas,
suara tawanya menggema ke seantero kampung sehingga membuat warga kampung
menggigil ketakutan. Mereka sudah melihat secara sembunyi – sembunyi bagaimana
kepala dusun mereka mati menggenaskan. Sungguh disayangkan, sang menantu yang
dikenal dengan si pedang dewa itu sedang dikotaraja sehingga malapetaka itu
berjalan dengan mulus.
Setelah rombongan perampok itu
berlalu, segera warga berdatangan kerumah kepala dusun. Mereka bergidik melihat
darah berceceran di dalam rumah disusul dengan diketemukan dua sosok tubuh yang
sudah tidak bernyawa lagi.
Mereka itu adalah srikandi dan ibunya, sementara itu
jenazah Ki Wiguno sudah diurus warga kedalam rumah. Hanya tubuh si kecil yang
bernama sanjaya tidak diketemukan oleh warga, lalu beramai – ramai mereka
berusaha mencari disekitar rumah hingga terdengar oleh mereka suara tangis
tersendat – sendat dari balik lemari buruk dibelakang rumah.
Ternyata ada
rongga seukuran tubuh manusia dibalik lemari itu, mungkin karena sudah tidak
mampu lagi untuk melarikan diri, srikandi lalu memasukkan anaknya kesitu sehingga
terhindar dari pembantaian.
Kita tinggalkan sejenak kedukaan
dirumah kediaman Ki Wiguno dan mari kita lihat keadaan Mahiga yang sedang
berada dikotaraja. Matahari sudah agak tinggi. Mahiga merasakan sesuatu yang
tidak enak hinggap dihatinya. Sungguh dia gelisah. Berkali kali pikirannya
terkenang pada istrinya seolah – olah ada panggilan untuk segera pulang. Hal
itu segera dirundingkan dengan kedua pembantunya.
“ Entah kenapa perasaanku tidak
enak, seakan telah terjadi sesuatu yang buruk dirumah” Ungkap Mahiga pada wirno
dan gatra. Kedua anak muda itu saling berpandangan seakan memaklumi isi hati
majikannya.
“ Kalau demikian juragan lebih
baik pulang duluan saja, biarlah saya dan gatra yang tinggal sambil mengurus
dagangan kita disini”. Usul si wirno dan dibenarkan oleh gatra.
“ Benar juragan, kami akan segera
pulang apabila dagangan kita telah habis”. Timpal Gatra.
Mahiga sesaat melamunkan
perkataan kedua pembantunya. Kemudian sambil berdiri dia berkata.
“ Kalian urus baik – baik urusan
disini, apabila besok aku belum kembali kesini, segeralah menyusulku pulang”.
Ucap Mahiga.
“ Baik Juragan...”. Jawab wirno
dan gatra serempak.
Dengan bergegas Mahiga berjalan
menuju pintu keluar kota.
Kuda sengaja ditinggalkan agar Wirno dan Gatra tidak kerepotan membawa dagangan
nanti. Setelah dirasa sepi, secepat kilat Mahiga berlari dengan menggunakan
ilmu lari cepatnya “langkah dewa angin” tubuhnya melesat. Hanya kelebatan bayangan
saja yang nampak.
Jarak antara kota
raja dan perkampungannya sangat jauh. Diperlukan waktu selama 2 hari untuk bisa
sampai kekampung dengan perjalanan berkuda. Akan tetapi karena hatinya sudah
tidak enak sekali, Mahiga menggeber tenaga dalamnya kekaki membuat langkahnya
secepat angin berhembus dan ketika matahari sudah condong ke barat, dia sudah
sampai dibatas kampungnya.
Untung baginya karena sewaktu melintasi hutan yang
memisahkan batas kampung dengan jalan
umum tidak mendapatkan halangan apapun. Walaupun demikian, langkahnya tetap
tidak berubah. Semenit kemudian dia sudah berada didepan rumah.
Sesaat langkahnya terhenti dan
merasa heran ketika melihat banyak warga berkumpul dirumahnya. Beberapa orang
tua segera menghampiri Mahiga dengan wajah muram. Mahiga merasakan nafasnya
sesak. Pikirannya berkecamuk bermacam – macam bayangan buruk. Di gamitnya bahu
seorang bapak yang dikenalnya sebagai pembantu bapak mertuanya.
“ Ki marta, ada apakah gerangan?
Kemana mereka...??” Demikian dengan tergagap Mahiga bertanya. Dilihatnya Ki
Marta menghela nafas.
“ Anaknda Mahiga, mereka telah
datang kesini...”. ucap Ki Marta dengan galau. Mahiga tertegun.
“ Siapa yang datang ki?” cepat –
cepat Mahiga kembali bertanya. Sungguh hatinya sangat kalut.
“ Empat iblis dari gunung gombang. Mereka telah....
” tersendat sendat Ki Marta menjawab. Hatinya tidak tega mengatakan kejadian
yang sebenarnya.
Mahiga merasa kerongkongannya
tercekat. Lemah lunglai tubuhnya. Barulah dia mengerti bahwa keluarganya telah
binasa ditangan empat iblis, perampok dari gunung gombang.
Memang beberapa bulan yang
lalu dia telah bentrok dengan mereka karena gerombolan itu berusaha menculik
anak perawan kampungnya. Mahiga menghadapi gerombolan itu sendirian. Saat itu
jumlah perampok masih utuh yakni enam orang.
Pada bentrokan itu dua orang
binasa dipedangnya. Sementara itu empat perampok lain terpaksa melarikan diri
dengan terluka sambil membawa mayat saudara mereka yang tewas. Sungguh dia
tidak menyangka pembalasan para iblis itu berlangsung disaat dia tidak berada
dirumah dan menyebabkan keluarga dan istrinya tewas.
“ Istriku, Ooohh... Anakku....!!”
keluh Mahiga dengan penuh kehancuran. Airmatanya luruh bersama duka nestapa ini. Ketika dia ingat pada putranya,
dengan langkah kilat seketika dia sudah berada didepan pintu. Matanya nanar
melihat beberapa sosok terbujur kaku diruang tengah dan dikelilingi oleh para
tetangga yang bersedih hati.
Dengan langkah lunglai Mahiga menghampiri jasad
istrinya. Sesaat lidahnya kelu tak mampu bicara. Pilu rasa dihati.
“ Adik Sri,... maafkan aku..
Oohh... aku bersalah padamu sehingga kalian jadi begini...”. Ratap tangis
Mahiga terdengar lirih diantara sedu sedan para pelayat perempuan.
Hampir gila
rasanya Mahiga saat itu. Begitu berat dia menerima musibah ini karena dia
sangat mencintai istrinya. Kebahagiaan hatinya telah direnggut secara paksa
oleh kematian mereka yang selama dua tahun ini sangat dekat dalam kehidupannya.
Tiba – tiba..
“ Ayah...” sebuah suara
membuyarkan kesedihan yang membuncah didalam hati. Dilihatnya sanjaya berjalan
tertatih - tatih kearahnya. Dengan penuh rasa syukur Mahiga bergegas merengkuh
tubuh mungil itu dan dengan tangis tertahan dia berkata
“ Sanjaya anakku, kuatkan
hatimu... suatu saat akan kita tuntut keadilan untuk kakek nenekmu dan ibumu.
Ayah berjanji nak..”. Bisik Mahiga
ditelinga Sanjaya. Anak kecil itu hanya menatap polos pada ayahnya yang sudah basah
oleh airmata.
Sanjaya masih sangat kecil untuk memahami apa yang telah terjadi.
Kematian tragis Ibu dan kakek neneknya juga belum bisa dimengerti olehnya.
Namun satu hal yang bisa ditangkap oleh matanya adalah banyak orang- orang
dikampung ini sangat baik padanya.
Setahun telah berlalu, keadaan
Mahiga sudah berbeda daripada setahun yang lalu. Sekarang tubuhnya terlihat
kurus dan kuyu. Tiada terlihat mata yang bercahaya penuh semangat seperti
setahun yang lalu sekarang hanya nampak kuyu dalam kesedihan.
Kematian istri
dan mertuanya setahun yang lalu masih belum dapat terlupakan dan itu adalah
pukulan telak yang hampir tidak kuat dia terima. Dalam hati sudah
ditetapkannya bahwa suatu saat nanti dia akan mencari para pembunuh itu dan
melenyapkan mereka selamanya dari muka bumi ini. Untuk saat ini dia harus fokus
pada anaknya. Hanya karena melihat anaknya Sanjaya itulah yang membuat tekat
untuk hidup normal masih ada dalam hati. Karena melihat tawa anaknya itu rasa duka hatinya sedikit terobati. Sambil
menata kembali hatinya, Mahiga mulai melatih anaknya dengan latihan dasar ilmu
silat agar sewaktu – waktu tubuh kecil itu siap membela diri.
Sanjaya sudah
setahun dibekali oleh dasar – dasar ilmu silat yang hebat. Sekarang umurnya
sudah 5 tahun. Mahiga sangat kagum melihat perkembangan sanjaya. Walaupun masih
anak – anak akan tetapi sanjaya terlihat kuat, kokoh dan rajin bekerja sehingga
membuat Mahiga semakin sayang. Kulitnya putih dan wajahnya tampan dengan sinar
mata yang bercahaya seakan – akan Mahiga melihat wajah sitrinya Srikandi
membekas diwajah anaknya itu
.
Berkali – kali dia menghela nafas dan kembali
menguatkan hati kemudian dengan disaksikan oleh langit dia bersumpah dihadapan
pusaran istrinya akan mendidik anak mereka dengan sungguh – sungguh walaupun
maut taruhannya.
Mahiga mengutarakan niatnya pada
penduduk untuk mendirikan sebuah perguruan silat dikampung tersebut. Hampir
seluruh penduduk mendukung usul dari Mahiga karena dengan adanya perguruan
silat akan memperkuat keamanan diperkampungan mereka.
Akan tetapi Mahiga tidak
langsung melaksanakan niatnya untuk membangun perguruan karena saat ini dia
akan pergi mencari pembunuh keluarganya hingga dapat ditumpas. Semua itu
dikemukakannya pada kepala dusun yang baru bernama Ki Patya beserta beberapa
tokoh masyarakat sesaat mereka sedang duduk dipendopo desa. Mahiga sekalian
minta tolong pada Ki Patya dan warga dusun agar mengasuh anaknya selama dia
tidak berada didusun. Ki Patya beserta warga menerimanya dengan senang hati
karena mereka simpatik pada penderitaan Mahiga dan anaknya sanjaya sehingga
mereka berebutan untuk mengasuh sanjaya dirumah mereka. Dengan penuh rasa haru
Mahiga mengucapkan terima kasih pada mereka.
“ Sanjaya, untuk beberapa waktu
engkau ayah tinggalkan...”. Ucap Mahiga. Tangannya mengelus rambut hitam
sanjaya.
“ Ayah mau kemana?”. Tanya
sanjaya. Mahiga tersenyum. Lalu diraihnya tubuh kecil itu.
“ Ayah akan membalaskan kematian
keluarga kita Nak, untuk itulah engkau ayah tinggalkan bersama warga dusun.
Tinggallah dirumah Ki Patya dan patuhi mereka. Bersediakah engkau anakku?
Sanjaya mengangkat mukanya dan
dia berkata
“ Bersedia Ayah, anak akan
patuh...”. Mahiga mengangguk puas atas ketaatan anaknya yang baru tumbuh itu.
Mahiga lalu membimbing anaknya
menuju rumah Ki Patya. Setelah meninggalkan sedikit uang untuk biaya anaknya
selama menginap, Mahiga segera meninggalkan dusun yang penuh duka itu untuk
mencari sarang pembunuh keluarganya dan tujuannya adalah ke utara.
Waktu terus berlalu, tanpa terasa
sudah hampir 2 tahun Mahiga berkelana untuk mencari jejak pembunuh itu. Sudah
banyak dia bertanya pada sahabat – sahabatnya kaum persilatan tentang tempat
tinggal para rampok hutan gombang. Sejauh ini masih samar hingga suatu hari dia
mendapat surat
rahasia yang menyebutkan posisi orang yang dicari. Mahiga sangat berterima
kasih pada pengirim surat
itu dan dengan penuh semangat dia lantas menuju kesarang rampok sesuai dengan
petunjuk.
Akhirnya Mahiga menemukan sarang
perampok tersebut, setelah mempelajari situasi maka dimulailah misi balas
dendam itu. Mahiga laksana harimau terluka mengamuk dan membuat para rampok itu
kalang kabut. Dengan segenap tenaga yang ada, Mahiga menghajar empat rampok
hutan gombang tanpa rasa kasihan.
Walaupun dikeroyok lebih dari 14 orang karena
gerombolan itu sudah mulai berkembang dan menerima anggota baru, namun Mahiga
seperti kesetanan bergerak, memukul, menerjang dan menusukkan pedangnya pada
musuh yang mencoba menyentuhnya hingga terlihatlah tubuh – tubuh yang terlempar
keluar kalangan pertempuran dengan keadaan tewas.
Setelah bertempur selama 4
jam akhirnya satu persatu pentolan gerombolan rampok itu tewas di ujung
pedangnya hingga satu ketika hanya dia dan si cambuk setan yang masih berdiri
diantara mayat yang bergelimpangan. Tubuh dan pakaian Mahiga sudah memerah oleh
darah lawan yang sudah tewas. Sorot matanya merah penuh dendam, dengan pedang berlumuran darah dia menuding pada si cambuk setan yang pucat pasi
ketakutan.
“ Iblis kalian.... Pengecut hina
kalian semua....!!!” bentak Mahiga menggeledek. Si cambuk setan menggigil. Dia
ibaratnya seperti pelanduk yang sedang berhadapan dengan harimau lapar,
sehingga untuk melarikan diri pun sudah tidak mungkin lagi. Bentakan Mahiga
membuat telinganya mendenyut sakit.
Makin guguplah dia hingga bersuarapun sudah tidak kuasa.
“ Hari ini, aku akan membalaskan
kematian keluargaku, Kau harus merasakannya seperti kawan – kawan mu itu...”.
Desis Mahiga. Walaupun cuma mendesis namun ditelinga si cambuk setan sangat
jelas terdengar dan semakin mengkuncupkan hatinya. Ngeri matanya menatap Mahiga
yang berubah seperti malaikat pencabut nyawa.
Mahiga lalu Melangkah kearah si
cambuk setan. Sorot matanya tajam menusuk. Si cambuk setan berusaha mundur
dengan hati kebat – kebit namun sudah terbentur dinding ruangan sehingga tidak
mampu apa – apa lagi. Si cambuk setan kemudian berlutut dihadapan Mahiga sambil
meratap.
“ Ampun pendekar.... jangan cabut
nyawaku... kasihanilah aku...”. dengan menggerung – gerung dia meratap memohon
belas kasihan. Sayang sekali, Mahiga sudah dirasuki dendam sedalam lautan
sehingga sudah tidak ada lagi rasa kasihan dihatinya terhadap pembunuh keluarga.
“ Apa kau bilang..? hahahaaaa....
“. Terdengar suara tawa Mahiga menggelegar disore itu. Tawa bercampur duka
sehingga terasa menyeramkan bagi orang lain. Si cambuk setan menggigil
ketakutan sambil terus memohon ampun.
Setelah puas mengumbar tawa,
Pedang naga terangkat keatas dan siap untuk menebas kutung leher laan.
“ Bersiaplah kau menyusul
kerabatmu, dan minta ampunlah pada keluargaku diakhirat....”. Selesai berucap,
maka berkelebatlah pedang naga memutus kutung kepala sicambuk setan tanpa mampu
dielakkan lagi. Bagai orang gila, Mahiga kembali mengumbar tawa. Suaranya yang
seperti suara setan itu bergema lantang memenuhi hutan rimba itu dan membuat
burung – burung yang sedang hinggap beterbangan ke angkasa akibat getaran
tenaga dalam yang mengguncang pendengaran mahkluk disekitar tempat itu.
Setelah puas,matanya menyapu
mayat – mayat yang berserakan. Sesaat dia ingat pada istrinya sehingga dengan
terisak haru dia berbisik.
“ Istriku, tenanglah kau disisi
tuhan, sakit hatimu sudah kubalaskan...”.
Sore semakin pasti berganti
malam, sebagai seorang pendekar dia mau tidak mau harus menguburkan sosok –
sosok tak bernyawa itu karena setelah raga itu kosong, maka tiada lagi
kejahatan yang akan ditimbulkan. Apalagi dengan membiarkan mayat – mayat
membusuk maka penyakit akan menyerang kampung – kampung yang berdekatan dengan
bekas sarang gerombolan rampok ini. Dengan menggunakan perkakas seadanya Mahiga
menggali lubang yang cukup lebar untuk menguburkan mayat – mayat tersebut.
Mahiga dengan rasa puas kembali melangkah. Setelah membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya, Dia akan pulang
kedusun karena sudah sangat rindu pada anaknya. Tanpa terasa sudah lewat 2
tahun dia meninggalkan sanjaya bersama warga dusun yang sangat baik hati. Lalu
dengan langkah lapang Mahiga menuju selatan. Cuma Sanjaya yang tersisa, dan
itu sudah cukup untuk membawa langkahnya pulang kembali.
Begitulah suka duka sang
pendekar, bisik Mahiga perlahan. Sudah puas rasanya mahiga melamunkan masa
lalunya. Dia kemudian melangkahkan kaki kedalam rumah untuk menjumpai anak
lelakinya.
Mahiga atau Si Pedang Naga sudah
mulai memahami tentang kedukaan karena hidup adalah permainan hati yang
menghadirkan suka dan duka untuk dirasakan. Semua itu adalah pelajaran yang
sangat berharga untuk menguatkan mental. Apalagi bagi sang pendekar yang
hidupnya selalu membela kebenaran, sudah pasti perjalanan hidupnya penuh liku,
banyak cobaan dan tantangan dan jika semua itu tidak mampu dikuasai dapat
dipastikan kejahatan terus merajalela dan kebenaran akan sulit ditegakkan
kembali.
Setahun setelah pulangnya Mahiga
kedusun dan sudah berkumpul kembali dengan anaknya, Maka pelaksanaan niat untuk
membangun sebuah perguruan silat akhirnya terlaksana. Masyarakat bahu membahu
dalam pekerjaan itu hingga dalam beberapa minggu, sudah berdiri bangunan yang
kokoh dikelilingi oleh pagar yang tinggi terbuat dari pohon jati.
Letak
perguruan itu tidaklah jauh dari dusun sehingga dalam keadaan apapun akses
keluar dan akses masuk berjalan normal. Warga dusun sangat senang dan bangga
karena telah berpartisipasi dalam pembangunan perguruan silat tersebut, tanpa
disuruh mereka ramai – ramai mengabarkan kesetiap kampung bahwa didusun mereka
telah berdiri sebuah perguruan silat yang diketuai oleh Si Pedang Malaikat.
Maka berbondong – bondonglah para remaja dan pemuda mendaftarkan diri agar
diterima dalam wadah perguruan itu.
Begitupun dalam kalangan dunia persilatan
golongan putih, banyak dari mereka yang kenal maupun yang cuma mendengar
tentang sepak terjang sipendekar ikut mendoakan semoga dalam arahan Mahiga akan
mampu melahirkan taruna – taruna muda yang kuat dan bijaksana untuk berbakti
pada bangsanya. Pada acara peresmian, Mahiga dan Sanjaya tampil dipodium.
Dengan disaksikan oleh tamu undangan dari kalangan persilatan maupun dari
warga, Mahiga mengucapkan terima kasih dan mengumumkan nama perguruan itu
adalah “ Perguruan Pedang Naga”.
Waktu terus berlalu, Mahiga
tidaklah muda lagi karena suka dan duka hidupnya telah memadamkan niatnya untuk
berkelana. Setelah memimpin hampir 100 murid, Mahiga telah kembali bersemangat
dan terus melatih membekali para murid dengan ilmu silat dan kesaktian lainnya
sehingga dia merasa sangat puas dengan hasil yang diperoleh oleh para murid angkatan pertama.
Hanya satu yang masih menjadi pertanyaan dihatinya yakni benda yang didapatkan
sewaktu di negeri jepon dulu belum berhasil diselidikinya, karena khawatir
terjadi sesuatu, maka benda tersebut dimusnahkan.
Pada malam harinya disaat Mahiga
membekali para murid dengan pemahaman rohani, dia sering mengatakan bahwa tiada
yang abadi didunia ini karena semua adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Esa. Hidup
dan mati sudah pula digariskan.
Kedukaan hanya permainan hati semata, semakin
diturutkan maka buruklah jadinya. Sebagai manusia tidak pantas rasanya untuk
berlarut – larut dalam duka, karena semua itu sudah takdir hidup yang telah
digariskan. Sudah seharusnya bagi yang masih hidup untuk berbuat kebaikan,
menegakkan keadilan dan selalu mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan
pribadinya sehingga akan terwujutlah keseimbangan dalam kehidupan manusia.
Demikianlah akhir dari cerita
ini, penulis mencoba mengajak pembaca sekalian untuk dapat mempergunakan hidup
sebaik – baiknya karena sebagai makhluk sosial kita dituntut untuk peduli pada
sesama, lingkungan dan juga negara supaya terjaga selalu dan menimbulkan
ketenangan dalam bermasyarakat.
Sampai bertemu lagi dilain
cerita.
Saleum.
Aceh Besar, 07 Januari 2012