Slider

VIDEO

BLOGGING NOTE

KULINER

SEJARAH

ACEH SELATAN

S O S O K

Gallery

Panglimo Rajo Lelo, Panglima Besar Dari Keluwat.

Beliau merupakan salah satu pejuang yang gagah berani dalam melawan kekajaman penjajah di wilayah kluet. Semasa kecil beliau dituntun dengan ilmu agama yang kuat oleh ayahnya dan lingkungannya. Tuntunan ilmu agama dan disiplin yang tinggi membuat beliau menjadi pemuda yang gagah, berani, jujur serta ksatria.

Terlahir dengan nama Ibnu Wantaser di Pung Besei (sekarang disebut Kampung Sapik) kecamatan Kluet timur kabupaten Aceh Selatan.  Oleh karena kecakapannya dalam memimpin maka pata tahun 1913 beliau diangkat untuk menjabat sebagai panglima oleh Raja Keluwat (kluet) kejeurun Mukmin dan sejak saat itulah namanya bergelar Panglimo Rajo Lelo yang ke empat.

Sebelumnya, sebagai panglima kerajaan keluwat (kluet) adalah saudaranya yang bernama Abdul Malik yang bergelar Panglimo rajo Lelo yang ketiga.

Kekejaman penjajah Belanda pada rakyat keluwat (kluet) begitu menyakitkan sewaktu menerapkan kerja paksa atau rodi. Penderitaan masyarakat Keluwat semakin menjadi-jadi ketika pihak belanda mewajibkan masayarakat untuk membuka jalan dari Paya Dapur ke Lawe Sawah dan dari Kota Fajar ke Menggamat. Rakyat dipaksa bekerja oleh Belanda berbulan-bulan dan diperlakukan secara tidak manusiawi pula. Melihat ketidak adilan tersebut Panglimo Rajo Lelo terusik hatinya untuk melakukan perlawanan. Maka meletuslah perang Kelulum.

Dalam sejarah yang beredar ditengah masyarakat disebutkan bahwa Perang Kelulum terjadi tepatnya pada tanggal 3 april 1926 selama lima jam, sejak dari jam 05.20 menjelang subuh sampai jam 10 pagi. Jadi bisa dibayangkan pertempuran yang sengit di mana pihak Belanda berjumlah berpuluh - puluh orang dengan persenjataan yang lengkap. Sedangkan pihak Panglimo Rajo Lelo dan dua puluh satu pasukannya hanya bersenjatakan pedang yang telah terhunus dengan susah payah berhasil membunuh serdadu belanda dan akhir dari peperangan ini juga menyebabkan  tewasnya Kapten J Paris di tangan Panglimo Rajo Lelo.

Perang Kelulum ini sangat menyedihkan bagi pihak Belanda, karena pasukannya hampir habis terbunuh oleh pejuang Keluwat. Kapten J Paris pimpinan Brigade Divisi 5 Marsose merupakan prajurit terbaik Belanda. Dia juga berperan dalam penyerangan  terhadap pasukan Teuku Cut Ali dimana Kapten J. Paris berhasil membunuh Teuku Cut Ali dalam sebuah peperangan. Sementara itu di pihak Panglimo Rajo Lelo pun tidak luput dari kerugian sebab hampir seluruh inti pasukan terbunuh berikut dengan Panglimo rajo Lelo sendiri yang gugur sebagai pahlawan yang gagah berani.

Demikianlah kisah kepahlawanan yang dinampakkan oleh putra keluwat yang bernama Ibnu Wantaser atau lebih dikenal dengan nama Panglimo rajo Lelo. Keberanian dan kegagahannya dalam menumpas penjajah belanda pada saat itu hingga syahid dimedan perang ternyata belum membuka mata pemerintah untuk menyematkan gelar pahlawan nasional kepada beliau.

Kini, bukti sejarah berupa makam Panglima Besar Keluwat itu beserta makam pasukannya dapat dilihat di Kampung Sapik kecamatan Kluet Timur kabupaten Aceh Selatan.

Teuku Raja Angkasah, Sipedang Terbang dari Bakongan


Masih di sesi Trilogy Kepahlawanan Putra Aceh Selatan, setelah kemaren kita membaca kisah kepahlawanan Teuku Cut Ali dalam mengusir penjajah belanda dari Tanoh rincong, maka kali ini kita akan menyimak kisah kepahlawan dari salah seorang sahabatnya bernama Teuku Raja Angkasah.

Teuku Raja Angkasah, mendeklarasikan perang melawan Kompeni Belanda. Hingga akhirnya syahid di Buket Gadeng, Kecamatan Bakongan Kabupaten Aceh Selatan, 25 Oktober 1925.

Postur tubuhnya memang kecil, tapi bukan berarti tidak punya nyali dan keberanian. Sejak kecil, sahabat Teuku Cut Ali ini, sudah memiliki keberanian dan kelebihan. Kelihaian dalam memainkan pedang, menjadikan putra dari Teuku Abdurrahman itu disegani kawan-kawan seperjuangannya. Belanda menjulukinya sebagai “Harimau Sumatera” atau " Sipedang Terbang Bakongan" karena keperkasaannya.

Teuku Raja Angkasah mulai memimpin perang melawan marsose Belanda awal tahun 1925. Dalam perang tersebut, banyak marsose Belanda tewas ditangan Raja Angkasah. Hampir setiap hari, ada marsose Belanda yang terbunuh. Keadaaan ini, jelas membuat militer Belanda gusar dan gamang, hingga berujung didirikannya markas marsose Belanda di Bakongan.

Sebelumnya, markas marsose khusus itu hanya ada lima di Aceh, yaitu di Indrapuri (Aceh Besar), Jeuram (Aceh Barat), Tangse (Pidie), Peurelak (Aceh Timur), dan di Takengon (Aceh Tengah). Perang di Bakongan, adalah perang yang paling sulit dan menakutkan bagi marsose Belanda. Maklum, banyak marsose Belanda yang ditugaskan di wilayah ini hanya tinggal nama.

Istilah “Kapal Putih”, momok yang menakutkan bagi Marsose Belanda. Bayangkan, hampir setiap minggu mayat-mayat marsose Belanda diangkut dengan kapal tersebut dari Bakongan menuju Kuta Raja (Banda Aceh) untuk dikuburkan di Komplek Perkuburan Kerkoff di Setui, Banda Aceh. Itulah salah satu bukti dari keganasan Raja Angkasah dalam membasmi Belanda.

Menurut Teuku Ramli Angkasah, putera kandung Raja Angkasah. Ada beberapa penyebab Ayahandanya bertempur melawan Marsose Belanda. Pertama, sikap Belanda yang mulai mencengkram wilayah Aceh, kedua pendirian Tangsi Militer di Bakongan. Ketiga, sikap Belanda yang mengadu domba keluarga Hulubalang Bakongan. Keempat terbunuhnya Ayahanda Teuku Raja Angkasah, yaitu Teuku Abdurahman yang merupakan hasil provokasi Belanda dan antek-anteknya di Bakongan. Dan yang terakhir, Belanda ingin memperkuat basis di Bakongan dengan melemahkan peran Hulubalang.

Perang Bakongan termasuk bagian Perang Aceh yang sangat menguras energi maupun biaya bagi pihak Belanda, termasuk menewaskan Prajurit Belanda yang sedemikian banyak diantaranya terdapat beberapa Jenderal Belanda.

Teuku Raja Angkasah memiliki cara yang unik saat bertempur dengan Belanda. Strategi yang digunakan Teuku Raja Angkasah dalam Perang Bakongan adalah :
Sebelum bertempur Teuku Raja Angkasah senantiasa mengirimkan surat tantangan kepada Marsose Belanda untuk melakukan pertempuran di suatu tempat. Strategi ini merupakan bentuk perang urat syaraf (psywar) untuk menjatuhkan mental pihak lawan.
  • Mengingat keunggulan Teuku Raja Angkasah dalam bermain pedang dan keterbatasan persediaan senapang mesin yang dimilikinya, Teuku Raja Angkasah sering menawarkan untuk bertanding pedang dengan Komandan Marsose Belanda, diantaranya Kapten Paris yang dikenal sebagai Singa Afrika dan sebelumnya pernah menjadi Komandan Pasukan Belanda di Afrika Selatan. Teuku Raja Angkasah unggul dalam pertandingan pedang ini. Keunggulan Teuku Raja Angkasah dalam bermain pedang ini adalah kemampuannya untuk meloncat seolah-olah melayang sambil mengayunkan pedangnya kepihak musuh.

  • Melakukan jebakan dengan menggunakan tali pada jalur-jalur yang dilalui oleh Pasukan Marsose Belanda. Saat Marsose Belanda terperangkap pada tali-tali tersebut maka Teuku Raja Angkasah bersama Pasukannya melakukan penyerbuan dan menghabisi para Marsose tersebut.

    Teuku Raja Angkasah bersama pasukannya menunggu di puncak bukit (Bukit Gading di Hulu Bakongan). Dikaki Bukit terletak sungai yang dilalui Belanda. Saat Belanda menyeberang sungai maka Teuku Raja Angkasah bersama pasukannya akan menyerbu dari atas sehingga membuat Pasukan Marsose Belanda kocar-kacir.
Belanda, kebingungan dan kewalahan atas perlawanan yang dilakukan Raja Angkasah beserta panglima perangnya. Acap kali, setiap peperangan berlangsung banyak marsose Belanda yang gugur. Berbagai cara pun dilakukan, agar Raja Angkasah dan pengikutnya dapat dilumpuhkan. Kompeni Belanda, menyebut Teuku Angkasah sebagai Teuku Angkasa. Itu dikarenakan, kemahirannya melompat dan melayang sambil mengayunkan pedang. Belanda hampir kehilangan akal untuk melumpuhkan “Harimau Sumatra” tersebut. Hingga akhirnya, Komando Pusat Belanda di Batavia (Jakarta), mengirim Kapten J. Paris ke Bakongan.

Kapten J. Paris, yang di juluki “Singa Afrika” khusus dikirim untuk melumpuhkan kekuatan Raja Angkasah dan pejuang lain. Sebelumnya, Kapten Paris pernah memimpin pasukan Belanda di Afrika Selatan dan terkenal dengan ketangguhannya bermain pedang.

Diutusnya Kapten J. Paris ke Bakongan, tak membuat Raja Angkasah gentar dan takut. Untuk membuktikan kehebatan Kapten Paris, Raja Angkasah menantangnya satu lawan satu. Ajakan itu, tentu diterima Kapten Paris dengan senang hati. Sebaliknya, Kapten Paris, juga ingin membuktikan kehebatan Teuku Raja Angkasah.

Tanding pedang Teuku Raja Angkasah versus Kapten Paris pun berlangsung alot. Singa Afrika tersebut kewalahan menghadapi kelincahan Raja Angkasah dalam memainkan pedang. Hingga akhirnya, Kapten Paris terluka parah. Namun, Teuku Raja Angkasah tidak langsung membunuhnya.
Kapten Paris diberi kesempatan untuk memulihkan diri sampai sembuh. Dan setelah itu ditantang lagi untuk bertanding pedang. Namun, adu pedang yang kedua ini tidak dilakukan, karena Marsose Belanda mempunyai strategi lain.

Marsose Belanda, yang licik dan mahir tipu muslihat, menjebak Teuku Raja Angkasah beserta tiga panglimanya. Pengepungan di Buket Gadeng itu, melibatkan puluhan marsose Belanda dengan senjata lengkap. Diawali dengan adanya seorang pengkhianat yang mengantarkan makanan.

Kemudian pengkhianat ini dari belakang diikuti oleh Pasukan Marsose Belanda, saat Teuku Raja Angkasah bersama Panglimanya menyantap makanan yang diduga telah diracun untuk melemahkan badan, Pasukan Marsose Belanda melakukan penyergapan. Marsose Belanda dengan jumlah lebih banyak - puluhan orang - dan bersenjata lengkap menyerbu posisi kemah Teuku Raja Angkasah bersama 3 orang Panglimanya.

Marsose Belanda, yang licik dan mahir tipu muslihat, menjebak Teuku Raja Angkasah beserta tiga panglimanya. Pengepungan di Buket Gadeng itu, melibatkan puluhan marsose Belanda dengan senjata lengkap. Tembakan dilepaskan secara bertubi-tubi, mengenai tubuh Raja Angkasa dan tiga panglimanya.

Dalam kondisi terdesak ini Teuku Raja Angkasah sempat menggunakan karabinnya (senapang tua). Karena terus ditembakan karabin itu menjadi sangat panas, kemudian Teuku Raja Angkasah membuka sorbannya untuk membalut karabin yang panas tersebut sambil mulutnya mengeluarkan sumpah serapah kepada Marsose Belanda.

Sebetulnya beberapa peluru telah mengenai badan Teuku Raja Angkasah namun beliau masih bertahan. Saat dalam keadaan terdesak tersebut beliau masih terus melakukan perlawanan. Namun kemudian peluru habis dan beliau kemudian berteriak memaki Pasukan Marsose Belanda sambil mencoba menggunakan pedangnya untuk menyerbu Marsose Belanda sambil mencoba menggunakan pedangnya untuk menyerbu Marsose.

Pada saat inilah seorang penembak jitu dari Pasukan Marsose Belanda berhasil menembakan satu peluru menembus ke mulut beliau sehingga ajal pun menjemputnya. Dia syahid bersama tiga panglimanya. Salah satu panglimanya hanyut terbawa arus sungai saat marsose Belanda membombardir tempat persembunyian Teuku Raja Angkasah dan panglimanya. Setelah syahid, pihak Belanda ingin memenggal kepala Teuku Raja Angkasah dan dibawa ke Kuta Raja. Kepala Teuku Raja Angkasah, akan diperlihatkan kepada Pejabat Tinggi Kolonial Belanda, sebagai bukti Raja Angkasah telah dilumpuhkan.

Namun, Raja Bakongan, yang saat itu dijabat pamannya (dalam bahasa Aceh Ayahcut—red) berhasil mencegah. Akhirnya Teuku Raja Angkasah dan panglimanya dimakamkan di Buket Gadeng.

Perang Bakongan yang dipimpin Teuku Raja Angkasah, membuktikan bahwa perang di Aceh tidak pernah berakhir, meskipun Sultan Aceh telah tertangkap Belanda pada tahun 1904. Setelah tahun 1904 masih banyak terjadi perang melawan Belanda di Aceh. Salah satunya adalah perang di Bakongan yang membuat Teuku Raja Angkasah syahid bersama tiga panglimanya. 

Jadi, sesungguhnya, Belanda tidak pernah menguasai Aceh, namun yang terjadi, perang terus menerus antara Aceh dengan Belanda. Mengenai tahun dan wafatnya Teuku Angkasah, ada beberapa pendapat. Sebagian mengatakan 25 Oktober 1925, lainnya 25 Oktober 1928. Begitulah catatan sejarahnya.

source: Yasirmaster

Teuku Cut Ali, Panglima Sago dari Trumon

Kisah patriotisme rakyat Aceh sudah tidak dapat di ragukan lagi. Sederet nama telah di nobatkan menjadi pahlawan nasional. Sebut saja Teuku Umar di Meulaboh, Cut Nyak Dhien, Teuku Cik Di Tiro dan banyak pahlawan-pahlawan lainnya yang telah gugur dan syahid dimedan perang dalam mempertahankan marwah dan harkat negeri yang dihuni dari kekejaman penjajahan belanda.

Pada kesempatan dihari Pahlawan ini, blog TERAS ANEUK JAMEE akan menuliskan beberapa kisah menarik  tentang pahlawan – pahlawan nan gagah berani bertempur mengusir penjajah di Aceh Selatan. Tersebut alam sejarah ada tiga nama besar yang merupakan simbol keperkasaan perjuangan dari Aceh Selatan yang menjadi buah bibir ditengah masyarakat. Mereka tidak hanya berperang menggunakan tenaga tapi juga memanfaatkan kecerdasan masing – masing dalam bergerak, sehingga kaphe belanda frustasi  seolah – olah sedang berada di dalam bara api.

Kecerdasan yang mereka miliki juga mendatangkan decak kagum dari pihak penjajah sehingga ada usulan agar mendapatkan otak dari salah satu pahlawan itu untuk dibawa ke belanda guna diteliti susunan otaknya. Namun walaupun pihak belanda sudah mengerahkan seluruh kekuatan perangnya, aksi pahlawan – pahlawan itu tetap berlanjut walaupun dilakukan secara bergerilya.

Pahlawan – pahlawan dari Aceh Selatan ini dilahirkan ditempat yang berbeda akan tetapi kebersamaan mereka dalam berperang melawan penjajah patut di ajungkan jempol. Mereka bahu membahu berupaya mengalahkan musuh baik itu secara frontal maupun secara taktik. Berikut nama mereka yang sebahagian telah TERAS ANEUK JAMEE rangkum. Karena Agak panjang jika disatukan, maka cangkirkupi.com akan menampilkannya satu persatu saja.

Teuku Cut Ali, Panglima Sagoe dari Trumon

Beliau merupakan salah satu keturunan Raja Trumon. Teuku Cut Ali dilahirkan di Trumon pada tahun 1895. Ayahnya bernama Teuku Cut Hajat dan ibunya bernama Nyak Puetro. Jiwa ksatria sudah terlihat sejak kecil pada sosok Teuku cut Ali. Sikapnya yang tegas, berani, gagah dan juga setia kawan sudah sangat dikenal oleh masyarakat yang ada di kerajaan trumon pada masa itu hingga beliau beranjak dewasa.

Tatkala pada usia 18 tahun, beliau sudah berperang melawan penjajahan belanda. Dengan kecerdasan otaknya itu para penjajah banyak dirugikan sehingga walaupun bisa mendesak kekuatan yang dimiliki oleh Teuku Cut Ali dan kawan – kawannya tapi tidak akan menutupi kerugian yang diderita oleh kaphe belanda itu. Oleh karena keperkasaan dan kecerdikan beliau sehingga pada usia 20 tahun beliau dipercaya untuk menjabat sebagai Panglima Sagoe dan para pejuang aceh lainnya berada dalam pengawasannya pula untuk bersama – sama menggempur musuh. Walaupun usianya masih muda untuk memegang jabatan tinggi itu namun dipilihnya Teuku Cut Ali sebagai Panglima Sagoe, selain memiliki kemampuan dalam memimpin perang, dia juga menguasai ilmu bela diri. Itulah yang membuat para pejuang Aceh saat itu sepakat untuk menunjuk Teuku Cut Ali sebagai Panglima Sagoe.

Dalam berperang melawan Belanda, gerilya adalah taktik dan strategi yang dilakukan Teuku Cut Ali dalam menyerang dan menghadang musuh. Dia dan pejuang lainnya, menyerang Belanda pada malam hari. Setelah menyerang, dan pihak musuh jatuh korban, Cut Ali dan prajuritnya menyingkir ketempat lain, sehingga membuat Belanda kewalahan untuk mencari jejak Cut Ali dan pengikutnya. Ketika perang di Seunebok Keuranji pecah, salah satu desa di Kecamatan Bakongan Kabupaten Aceh Selatan, banyak pasukan Belanda yang menjadi korban. Teuku Cut Ali pun mengalami luka parah akibat terkena peluru pasukan Belanda. Namun, Cut Ali dan pasukannya berhasil menyingkir ke dalam hutan untuk menghindari kejaran Belanda. 

Kemenangan demi kemenangan diraih Teuku Cut Ali dan pejuang lainnya sejak tahun 1926. Banyak jatuh korban di pihak Belanda. Kondisi ini, jelas membuat Belanda semakin gerah dan dendam terhadap Cut Ali. Dia, tidak hanya memimpin perang di wilayah Bakongan, tapi sampai ke Wilayah Kluet, Kabupaten Aceh Selatan.

Pada Juni 1926, Teuku Cut Ali dan pejuang aceh lainnya kembali melancarkan serangan terhadap pasukan Belanda, di dekat Gampong Ie Mirah, Kecamatan Pasie Raja. Dalam penghadangan ini, satu marsose Belanda tewas. Namun di pihak pejuang Aceh syahid sembilan orang. Tapi, Cut Ali dan pasukannya, terus gencar melakukan serangan terhadap Belanda.

Tanggal 26 Mei 1927, Teuku Cut Ali bergerilya ke wilayah Terbangan, Kecamatan Pasie Raja, untuk menyusun strategi dan melakukan penyerangan serta penghadangan terhadap pasukan Belanda. Namun, jejaknya diketahui Belanda yang saat itu dipimpin Kapten J. Paris atau dikenal dengan julukan Singa Afrika. Kapten Paris sengaja dikirim khusus oleh Belanda untuk menumpas dan melumpuhkan para pejuang Aceh yang di pimpin Teuku Cut Ali.

Dengan jumlah pasukan yang banyak, Kapten J. Paris menyusun strategi untuk menghadang dan melumpuhkan Teuku Cut Ali dan pejuang lainnya. Maka, terjadilah perang yang sangat dahsyat antara pejuang Aceh dibawah pimpinan Teuku Cut Ali dan Belanda di bawah komando Kapten J. Paris. Korban pun berjatuhan dalam perang yang berat sebelah itu, baik di pihak pejuang aceh maupun Belanda. Dan akhirnya, Teuku Cut Ali syahid di tangan Kapten J. Paris dalam sebuah sergapan licik.  Sementara itu salah satu perwira belanda bernama Letnan Monelaar pun ikut gugur dimakan senjata pejuang.

Jasad Teuku Cut Ali akhirnya di bawa ke Desa Suaq Bakong, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan, dan dikuburkan di sana. Dari beberapa sumber diketahui bahwa pada dasarnya Jasad Teuku Cut Ali yang terkubur di pinggir Muara itu tanpa kepala sebab Serdadu Belanda telah memotong kepala Teuku Cut Ali untuk dibawa ke Kuta Raja dan sekarang tengkorak Teuku Cut Ali berada di sebuah Museum di Belanda.

Teuku Cut Ali akhirnya diberi anugrah gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Pusat atas keberanian dan kecakapannya dalam memimpin pasukan pejuang aceh menggempur kedudukan belanda di aceh.

Marco Van Basten dan Trio Belanda

Bagi penggemar sepakbola, nama Marco van Basten, tidaklah asing lagi di telinga kita. Marco van Basten adalah fenomena, legenda hidup bagi AC Milan, dan tim nasional Belanda. Van Basten adalah seorang “balerina” sepakbola, jika dicermati gerakannya sangat gemulai dan indah, namun sangat mematikan. Sebagai seorang striker, torehan gol-nya sangat meyakinkan, dengan 128 gol dalam 147 penampilannya bersama AC Milan. Perlu diingat dalam kurun waktu tersebut, persaingan sepakbola dunia, khususnya di Liga Italia sudah sangat ketat.

Secara individu, teknik Marco van Basten boleh dibilang lengkap. Ditunjang postur dan tinggi badan, van Basten punya sundulan yang oke, dan kedua kaki yang “hidup”. Anehnya tidak seperti striker-striker lain yang bertubuh tinggi, van Basten dibekali kemampuan dribbling yang yahud. Marco van Basten adalah pemain terakhir yang mampu merebut gelar pemain terbaik Eropa selama 3 tahun berturut-turut (1988-1991).


Bersama-sama dengan Frank Rijkaard dan Ruud Gullit, van Basten memperkenalkan kehebatan TRIO BELANDA, dan membawa AC Milan merajai Italia dan Eropa dengan merebut gelar 3 Scudetto ( Juara Liga Italia 87-88,91-92,92-93 ), 3 Piala Super Italia ( 88,92,93 ), 2 Piala Champions ( 88-89,89-90 ), 2 Piala Super Eropa ( 89,90 ), dan 2 Piala Interkontinental ( 89,90 ). Untuk negaranya, Belanda dibawanya kepada gelar terhormat, Piala Eropa 1988. Pada saat itu Belanda dibawanya menjadi juara dengan menampilkan permainan menyerang dan attraktif, yang sampai saat ini terus dikenang sebagai Total Football.

Van Basten adalah pribadi yang santun, lahir di Utrecht pada tanggal 31 Oktober 1964, memulai karir di Ajax Amsterdam dan melanjutkannya di AC Milan, sampai akhirnya pensiun. Semasa karir sepakbolanya van Basten dikenal sebagai pemain bola yang tidak suka hingar binger dan minus dari gosip-gosip miring. Antiklimaks dari karir van Basten terjadi pada tahun 1995, di mana beliau “dipaksa” untuk pensiun dini dari dunia sepakbola. Cedera tulang engkel yang tidak kunjung sembuh adalah penyebabnya. Dalam usia 31 tahun, van Basten seharusnya masih dapat “menikmati” hingar bingar sepakbola, namun apa daya, cederanya terlalu parah dan memaksanya keluar dari persepakbolaan jagat raya.

Gol voli Ajaib dari luar kotak penalti ketika melawan Uni Soviet pada final Piala Eropa 1988, merupakan mahakarya van Basten yang paling dikenang sampai saat ini, bahkan memperoleh penghargaan sebagai gol terbaik Abad ini. Akan tetapi kutipan sebuah harian olahraga Italia, pada saat van Basten memutuskan untuk pensiun, mungkin dapat menunjukkan kepada dunia, bagaimana perjalanan karir seorang Marco van Basten. Kutipan tersebut berbunyi :
“ Di mana kita akan menemukan pemain seperti dia ? “

Terlalu berlebihankah kutipan dari media itu atau bagaimana?, semua terserah pada penilaian sahabat.

Trio Gre No Li

Sebagai pecinta sepakbola Italia, sedikit banyak sahabat tentu pernah mendengar nama Trio GreNoLi. Trio ini adalah sebutan untuk trio penyerang asal Swedia yang dianggap menakutkan di bidang sepak bola kala itu dan aktif di tahun 50-an. Mereka adalah Gunnar GREn, Gunnar NOrdahl, dan Nils LIedholm .

Persatuan ini terbentuk saat ketiganya membentuk trio penyerang di Swedia dan klub sepak bola Italia, AC Milan . Tiga penyerang ini membawa Swedia memenangi medali emas pada turnamen sepak bola Olimpiade 1948 di London.

Setelah kesuksesan tersebut, Nordahl begabung dengan Milan, disusul dengan bergabung nya Gren dan Liedholm pada musim 1949 - 1950, selama itu Milan mencetak 118 gol dari 38 kali bermain. trio tersebut memberikan gelar yang cukup banyak untuk Milan di musim-musim selanjutnya, saat Milan memenangi scudetto . Liedholm dan Nordahl juga memenangi gelar tersebut pada 1955, namun hanya Liedholm yang memenangi gelar tahun 1957 dan 1959, setelah Gren dan Nordahl pindah klub. Gunnar Nordahl yang paling sukses di ranah Italia, karena ia memenangi capocannonierri (top skor Seri A) selama enam musim beruntun mulai musim 1949 hingga 1955.
 
1. Gunnar GREN
Nama lengkap : Gunnar Gren
Tanggal lahir : 31 Oktober 1920
Tempat lahir : Gårda, Swedia
Tanggal Meninggal : 1 November 1991 (umur 71) Tempat meninggal : Göteborg, Swedia
Posisi bermain : Penyerang
Gunnar Gren (lahir di Gårda, Swedia , 31 Oktober 1920 – meninggal di Göteborg, Swedia , 10 November 1991 pada umur 71 tahun) adalah seorang pemain dan pelatih sepak bola asal Swedia . Bersama kedua temannya, Gunnar Nordahl dan Nils Liedholm , ia membentuk trio legendaris GreNoLi di klub AC Milan dan Swedia . Ia meninggal tanggal 10 November tahun 1991, di Göteborg, Swedia .




2. Gunnar NOrdahl (lahir di Hörnefors, 19 Oktober 1921 – meninggal di Alghero, Sardinia, 15 September 1995 pada umur 73 tahun) adalah seorang pemain sepak bola dari Swedia . Bersama dengan Gunnar Gren dan Nils Liedholm , ketiganya dikenal sebagai trio GreNoLi yang ditakuti di AC Milan. Selama kariernya di Milan, Nordahl mengemas 210 goal dalam 257 pertandingan dan merupakan pencetak gol terbanyak bagi Milan sepanjang sejarah. Jumlah golnya tersebut juga merupakan terbanyak kedua di Seri A. Nordahl juga dua kali membawa Milan menjadi juara di Liga Champions (tahun 1951 dan 1955).

Kariernya berawal di Degerfors di Swedia sebelum kemudian pindah ke IFK Norrköping. Bersama Norrköping, ia menjuarai empat gelar Liga Swedia. Selama di Swedia, ia mencetak 149 gol dalam 172 pertandingan. Ia dipanggil ke tim nasional Swedia pada tahun 1945. Pada tahun 1948, ia membawa Swedia menjadi juara Olimpiade dan merupakan pencetak gol terbanyak di turnamen tersebut. Selama empat tahun di timnas, jumlah golnya adalah 44 dari 33 pertandingan. Ia bergabung dengan Milan pada 22 Februari 1949. Setelah meninggalkan Milan, ia sempat bermain di AS Roma selama dua musim.


3. Nils Liedholm (lahir 8 Oktober 1922 – meninggal 5 November 2007 pada umur 85 tahun) adalah mantan pemain dan pelatih sepak bola berkebangsaan Swedia. Dia pernah membela tim IK Sleipner, IFK Norrköping, dan AC Milan serta menjadi pelatih tim AC Milan, Hellas Verona, A.C. Monza Brianza 1912, A.S. Varese 1910, ACF Fiorentina, dan AS Roma. Di timnas Swedia, dia bermain 21 kali serta membawa timnya meraih tempat kedua di Piala Dunia FIFA 1958 . Posisinya adalah gelandang.

Liedholm memperkuat Milan dari tahun 1949 -1961 dan memenangi empat gelar Seri A. Ia membela Milan selama 359 kali dan mencetak 81gol. Liedholm adalah bagian dari trio legendaris GreNoLi (Gunnar Gren, Gunnar Nordahl dan Nils Liedholm). Terkenal akan akurasi operan bolanya, ia pernah membuat sejarah selama dua tahun tidak pernah membuat timnya kehilangan penguasaan bola.

Sebagai pecinta AC Milan kita sangat berterimakasih atas konstribusi mereka membawa Milan berkali - kali memenangi kompetisi di Liga Italia dan Dunia sepakbola pada umumnya.